Padang Sidempuan dan tetek bengeknya

Apa yang melintas di pikiran kamu saat saya mengatakan nama kota Padang Sidempuan. Well , for some people they think its part of Padang. Bahkan saya pun berpikiran seperti itu waktu mendengar nama kota itu pertama kali. Pasti nanya “Itu sebelah mananya Padang yak? ” Hahaha.

Terkadang kita terlalu berpikiran terlalu jauh kedepan nyari kota-kota yang ada di luar negeri, padahal kota dalam negeripun masih banyak yang belum tahu. Contohnya saya (tunjuk hidung sendiri). Saya berkunjung ke kota ini juga karena misua orang asli sana. Kalau nggak, mungkin seumur hidup saya akan berpikir kalau Padang Sidempuan ya bagian dari Padang.

Nah lebaran kemaren adalah kali ketiga saya berkunjung kesana. Tujuannya sama saja sih seperti orang-orang pada umumnya orang mudik. Silahturahmi itu pastinya. Saya suka sekali mengamati budaya ditempat baru. Nah saya ceritakan pengalaman saya ya:

  • Lampu lalu lintas tidak berlaku disana. Disana itu ada loh lampu lalu lintas yang warnanya merah, kuning dan hijau tapi sama sekali nggak berguna. Banyak pula yang sudah rusak, entah sengaja atau nggak. Saya naik mobil atau motor mau lampunya berwarna merah kek, nggak bakal dianggep.  Tetep aja jalan, saya yang teriak-teriak deg-deg an. “Lampu merah, lampu merah berhenti!” Eh malah kata misua kalau nggak jalan malah di klakson dari belakang. Sampai ada saudara yang bilang lampu lalu lintas itu seperti lampu taman aja disana. Aduh, aturan macam apa ini. Pantesan sering macet padahal cuma di kota kecil.  Jangan tanya dimana Pak Pol ya, ada sih disekitar situ… tapi entahlah mungkin dia lelah.
  • Serba mie… Seminggu disana rasanya perut begah banget dengan makanan yang bersantan. Rasa-rasanya semua jenis masakan dikasih santan, cuma sayur bening aja yang nggak. Nah, saya pengin deh gado-gado. Ya elah masa isinya cuma kangkung, tauge seuprit, timun dan mie gomak. Mie gomak lagi, mie gomak lagi… bener-bener merubah citarasa gado-gado deh. Lidah saya yang jawa ini merasa di khianati sama varian gado-gado disana.
  • Jalanan yang rusak dimana-mana. Secara administrasi Kota Padang Sidempuan ini adalah salah satu Kotamadya di daerah Tapanuli Selatan. Tapi yang bikin ngenes itu jalan raya nya banyak yang berlubang, bahkan ditengah kota. Nggak ushalah jauh-jauh sampai pedalaman. Lihat saja depan pasar, depan kantor kotamadya dan bahkan DPR nya, depan mall pokoknya sekitar situ lah. Jalanannya jelek banget. Padahal jalan utama loh. Nggak ada yang mengkritisi kah? Atau mulutnya sudah di bungkamkah? Ah entahlah juga… Jangan tanya saya
  • Nemu makanan unik. Saya baru tahu kalau rotan bisa dimakan. Jadi ranting rotan muda di bakar. Setelah itu bakal keliatan isinya yang warnanya putih. Biasanya di campur dengan potongan bawang dan cabai rawit setelah itu jadi lauk deh. Rasanya agak sepet-sepet pahit. Mungkin kalau yang belum biasa kayak saya makan 2 biji aja udah cukup kali ya.

IMG-20160722-WA0046 IMG-20160722-WA0044

Rotan bakar
Rotan bakar
  • Sebagai daerah penghasil salak, nggak heran kalau sebenarnya daerah ini menyimpan pemandangan alam yang cantik. Kemaren saya menyasarkan diri ke Gunung Sibual-Buali. Sebenarnya menurut saya bukan exactly gunung sih, tapi memang lumayan tinggi. Sudah banyak cottage dan villa (mungkin) sampai kolam pemancingan. Waktu saya kesana, banyak juga muda-mudi yang maennya kesana. Yah, dimana lagi kalau mau refreshing. Apalagi pemandangannya cantik. Dan jangan salah saya nemu durian yang harganya murah loh. Jadi puas deh makan durian.

IMG-20160722-WA0042 IMG-20160722-WA0043

Gunung Sibual-Buali
Gunung Sibual-Buali

Well, kalau ditanyain soal bahasa saya nyerah ya. Nggak tahu sama sekali ya boo. Paling kalau diajak ngobrol dan mereka pakai bahasa asli, saya cuma senyum-senyum aja. Paling misua yang ngomong intinya sih nggak ngerti bahasa sana. Hahaha.

 

Day 4 Nami island and Petite France

Maaf nge-blognya lompat-lompat ya… Niat sih dari kemaren-kemaren ada. Tapi nulisnya itu loh. Malesnya minta ampuunnn… Kena sindrom blogger males kayaknya. Melanjutkan jalan-jalan kita di Korea ya

Day 4, time to Nami Island and Petite France 😀

Bagi pecinta drama Korea yaitu  Winter Sonata pasti tahu banget Nami Island. Kalau saya sih nggak terlalu tahu drama itu, jadi ya dalam imajinasi saya Nami island ya pulau di tengah laut dan nyatanya pulau di tengah danau tapi dengan kemasan yang unik dan cantik.

DSCN4130

Orang Korea itu oke banget deh kalau mengemas suatu tempat wisata. Yang seharusnya biasa aja bisa jadi menarik. Asal tahu aja ya…di sana banyak selebaran wisata yang isinya spot-spot shootingnya film Korea. Yah, sekarang ini drama Korea memang sedang berjaya di seluruh dunia. Saya pun suka drama Korea karena ceritanya yang memang bagus dan pemainnya  ganteng.  dan nggak akting berlebihan. Inget donk kalau sinetron Indonesia pemainnya gimana. Matanya dipicing-picingin, tidur aja bedaknya tebel banget, selalu ada head voice sambil ekspresi muka aneh, yang jahat ya jahat banget, yang baik ya keterlaluan baiknya. Bukan maksud ngeledek produksi dalam negeri ada sih yang bagus, tapi… ya sudahlah.

Tuh kan kebiasaan jadi ngglambyar. Balik lagi ke Nami island deh.

Dari Seoul 2 jam perjalanan naik kereta ke Nami Island. Biar murah mending naiknya bis aja. Bisa sih naik taxi, tapi yah lumayan mahal lah. Kalau bus tour ini nggak akan bayar-bayar lagi kalau mau pergi ke lain tempat. Sayangnya waktunya cuma sehari jadinya cuma bisa ke Nami island sama Petite France. Itupun udah menggigil kedinginan.

Ini katanya spot First Kiss di Winter Sonata
Ini katanya spot First Kiss di Winter Sonata

Ke Nami island katanya bagus kalau pas musim semi. Tapi menurut saya winter pun tempat ini sempurna. Ditambah banyak ornamen-ornamen winter. Jangan lupa disana ada spot-spot buat shooting film Winter Sonata yang ditunjukin gambarnya dari adegan ciuman, pegangan tangan, sampai pelukan. Hahaha. kalau di Indonesia mungkin udah di gerebek FPI ada simbol-simbol begitu. Wakakak. Temen saya yang nge fans banget sama Winter Sonata sampai naik di patungnya mereka berdua. Nggak naik diatasnya loh ya, cuma naik di atas kaki patungnya aja.

Welcome to Nami Island
Welcome to Nami Island
Cantiknya winter di Nami Island :D
Cantiknya winter di Nami Island 😀

Buat yang muslim jangan kuatir buat sholat karena disini udah tersedia mushola dan kalau mau makan pun nggak usah takut karena ada restaurant halal disini.

Waktu itu jam udah menunjukan jam 3, kami memutuskan untuk segera keluar dari Nami island biar bisa ngejar Petite france yang jaraknya lumayan jauh. Walaupun kami dapet bis, tapi kami harus berdiri dan kebayang donk jalanan pegunungan gitu, rasanya udah mau mual aja. Keluar dari bis kami bertiga pusing-pusing dan mual. Nongkrong dipinggir jalan menstabilkan badan dan perasaan. Buset dah tuh bus berasa naik roller coaster.

DSCN4150

Ini yang bikin unik
Ini yang bikin unik

Masuk ke Petite France memang berasa kayak di Eropa beneran. Arsitekturnya, dekorasinya semua-semuanya mengingatkan saya sama desa di Inggris 😀 Ada miniatur Eifel dan sosok Petite France tentu saja. Memang luasan wilayahnya nggak terlalu luas tapi banyak spot yang bisa buat foto-foto dan ditambah lagi karena ini salah satu tempat shootingnya My Love from the Star eh ada juga layar tivi yang ada adegan di Petite Francenya. Itu mulu yang diulang-ulang. hahaha.  Disini juga ada rumah dan isinya yang bergaya eropa, sampai barang pecah belahnya.

Arsitektur gaya Eropa di Korea
Arsitektur gaya Eropa di Korea

DSCN4240

Tempat ini semakin cantik waktu pas hujan salju loh, apalagi ditambah kelap kelip lampu. Sedikit mengobati kerinduan saya sama UK #gagalmoveon.

Udah baca bukunya belum?
Udah baca bukunya belum?
Interior di salah satu rumah
Interior di salah satu rumah

Anyway, cerita sedikit waktu saya sarapan di hostel ketemu sama anak-anak Korea yang lagi liburan di Seoul. Yang bikin bangga adalah mereka tidak hanya tahu Bali tapi tahu Indonesia :D. Mitos Bali lebih terkenal daripada Indonesia telah terpatahkan di Seoul. Hihihi.

 

Tanpa Listrik dan Gadget pun Kami Tetap Hidup Bahagia (Suku Baduy)

Halo semuanya,

Ah sepertinya lama sekali saya tak menulis di blog. Tenggelam bersama tuntutan pekerjaan dan rasa malas yang teramat sangat untuk menulis. Memulai menulis blog lagi rasanya setengah mati…

Apa kabar nasib blog yang sudah satu tahun saya tinggalkan ini, masih ada yang numpang lewatkah atau terlupakan begitu saja. Hahaha, terlupakan oleh orang lain pun ga apa apa. Paling nggak, nulis blog itu salah satu media belajar saya untuk mengingat sesuatu yang suka lupa ini.

Ok, Let’s get started…

Seminggu yang lalu tepatnya tanggal 10 dan 11 Oktober saya ikutan trip ke Baduy yang diadain travelicious cuma bayar Rp. 185 ribu. Yah walaupun ada tambahannya sih, disuruh bawa beras 2 L dan ada tip ke tour leadernya Rp. 15ribu. Seharusnya trip saya ini jalan dua minggu sebelumnya, namun ternyata karena kuota tidak terpenuhi akhirnya diundur deh. Maklum masih budget backpaker.

Terima Kasih  Suku Baduy
Terima Kasih Suku Baduy

Meeting point pertama itu di Stasiun Duri, saya naik kereta dari stasiun Lenteng Agung ke Stasiun Duri cuma 2 ribu. Nyampe sana udah ngumpul tuh wajah-wajah penuh suka cita ke Baduy. Belum tahu aja nanti jalannya gempor. Hahaha.

Habis sarapan, kenalan dan akhirnya kita berangkat ke Stasiun Rangkas Bitung jam 7.30. Seharusnya sih jam 07.15 tapi telat euy. Naik kereta ekonomi ke Rangkasbitung berasa naik kereta api dari Jakarta-Tegal sebelum eranya Pak Jonan. Masih rebutan kursi, masih banyak orang yang duduk di peron, atau di gang-gang tempat duduk. Saya memang dapet tempat duduk tapi jarak tempat duduk saya dengan yang didepan saya sempit, alhasil harus beradu dengkul #ngok

Nah yang lucu lagi, bisa aja modus orang nyari duit. Jadi sebenarnya kan sudah ada peraturan nggak boleh berjualan di area atau gerbong kereta. Tapi bukan orang Indonesia namanya kalau nggak kreatif. Sempet syok waktu lihat ibu-ibu yang bedak sama gincunya tebel nenteng-nenteng plastik item gede. Ujug-ujug dia duduk di sebelah sambil matanya celingukan. Habis itu nawarin gorengan sama lontong. Wakakak, sempet syok tapi juga lucu. Cara orang nyari duit ada aja yaa…

Gorengan-gorengan!!!!
Gorengan-gorengan!!!!

Nyampe Rangkasbitung, akhirnya kami ngumpul sama semua peserta trip. Ada sepasang bapak ibu atau yang biasa kami sebut abah umi, karena kami nggak tahu nama asli mereka siapa. Rata-rata sih seumuran, terus saya yang paling muda #ngarep. Anyway, setelah itu kami dianter ke kendaraan berikutnya yaitu Elf (bener nggak sih nulisnya) sama angkot. Karena kami ada 22 orang, jadi harus ada dua kendaraan. Saya di angkot aja bagian depan, bareng cowok-cowok. Sayang nggak bisa tepe-tepe karena bawa suami #mintaditabok.

Diangkut, diangkut
Diangkut, diangkut

Singkat cerita, (eh nggak bisa disingkat juga sih, dua jam ngobrol ngalor ngidul belum nyampe-nyampe) kami sampai di Terminal Ciboleuger. Yang bikin seru (atau bingung) jalanan dari stasiun Rangkasbitung ke terminal Ciboleuger itu dangdut abis, banyak lobangnya. Asal pegangan kenceng nggak papa sih. Nyampe sana udah jam 12 an siang. Laper, makan nasi sama ikan mas di warung 20 ribu. Nah jam 1 baru deh kita ngumpul lagi depan gerbang menuju peradaban masa lalu. Disitu udah ada guide dari Suku Baduy Dalam beberapa orang yang bakal nganterin kami menuju kampungnya mereka. Awalnya pede aja, kirain jalannya bakal mulus, datar-datar aja dan ternyata jalannya kebanyakan nanjaknya daripada datar ataupun turunannya. Waktu itu kami menempuh waktu 5 jam dari Ciboleuger. Jangan takut buat yang cewek, kalau nggak sanggup bawa ransel atau backpack segambreng karena ada porter dari Suku Baduy yang kuat-kuat. Bukan bermaksud memperkerjakan anak kecil dibawah umur ya, beneran deh. Abisnya yang bawa backpack saya paling anak umur 12 tahun dan itu bukan cuma satu tas, tapi 3 (tiga) luar biasa! Ditambah lasgi setiap kita istirahat ada aja orang-orang yang nawarin minuman, mereka itu ngikutin kita. Mereka tuh tahu kalau bekal air minum kita bakal abis di tengah jalan. Hahaha, takjub bener deh. Jalan tanpa nenteng apapun aja capek, apalagi ini bawa satu ember gede minuman. Perjuangan nyari duit yang luuar biasa!
Paling nggak, mereka nyari duit halal, nggak gengsi, walaupun harus kerja keras dengan peluh yang mengucur. Harusnya kita malu yang mau kerja enak dapet duit banyak apalagi yang doyan korupsi tuh….malu nyampe ubun-ubun!!!

Kuat sekali kau Nak :D
Kuat sekali kau Nak 😀

Back to the story,
Walaupun kami capek tapi beneran deh saya happy. Selain menemui suku yang dulunya cuma ada di buku aja, sepanjang jalan kami ngobrol, kami juga menemukan keindahan alamnya yang masih terjaga, dan kehidupan masyarakatnya yang masih sederhana. Ketika kami memasuki wilayah Baduy luar banyak, kami banyak melihat kehidupan para wanitanya yang mostly menenun, para lelaki berladang, sebagian juga berdagang. Di depan rumah suku Baduy luar, banyak berjejer souvenir atau kain tenun. wanita suku Baduy luar, sudah menggunakan perhiasan emas, bajunya pun lebih bebas dan berwarna. Mereka pun boleh menggunakan jeans, gadget, pokoknya sudha agak modern. Hanya bentuk rumahnya saja yang masih dari bambu dan ijuk sebagai atap.

Lumbung Padi
Lumbung Padi

Beratap jerami
Beratap jerami

Batas antara Baduy luar dan Baduy Dalam adalah jembatan penyeberangan berbahan bambu dan terikat kuat dari ijuk. Sebelum kami memasuki daerah Suku Baduy Dalam, kami puas-puasin deh foto-foto, sebelum itu dilarang. hahaha. Sejam kemudian kami sudah sampai di Suku Baduy Dalam dengan kondisi yang agak berbeda. Satu keluarga biasanya punya 3 rumah, 1 rumah ladang (rumah di ladang tempat mereka bercocok tanam), 1 rumah untuk tempat tinggal dan 1 rumah untuk lumbung padi. Letaknya masing-masing terpisah. Nah waktu kami memasuki kampung Baduy Dalam harus lewat jembatan dan saat saya tengok kanan, eh ternyata banyak wanita mandi disitu, naked :p Kalo yang cowok sih pasti seneng, kalau saya merem-merem. Hihihi

Jembatan Suku Baduy
Jembatan Suku Baduy

Akhirnya kami dititipkan disalah satu rumah, cewek dan cowok dipisah. Sederhana memang, penerangan cuma dari lampu templok, alas tidur cuma tikar (untung saya bawa sleeping bag) menu makanannya pun sederhana cuma sayur asem, ikan asin sama telur goreng, dan nasi. Tapi serius deh, makan itu terasa nikmat entah laper atau memang enak banget. Hahaha.
Habis itu kami ada sesi sharing sama Puun, Puun itu tetuanya Baduy Dalam dan Baduy Luar. Jadi posisi ini secara turun-menurun. Kalau menurut kabar burung kan (entah burung yang mana) kalau Suku Baduy ini adalah sisa-sisa prajurit Padjajaran yang kabur , tapi menurut mereka ini salah. Menurut leluhur mereka, Suku Baduy diturunkan ke Bumi awalnya ada 10 orang, 3 menjadi Baduy dalam dan 7 Baduy luar untuk menjaga alam ini. Mungkin kalau di muslim, kita percaya nabi Adam gitu ya…

Nah dalam perjalanannya, karena mungkin ada orang-orang Baduy Dalam yang tidak kuat dengan arus modernisasi, akhirnya mereka harus dikeluarkan dari Baduy Dalam. Misal, mereka itu tidak boleh merokok, minum-minuman keras, judi, punya gadget, nggak pake alas kaki, pakaian pun cuma warna hitam dan putih. Jika ada yang melakukan pelanggaran mereka akan dihukum di rutan. Lamanya ya tergantung kesalahan yang dilakukan. Mereka pun punya penanggalan sendiri, waktu saya kesana itu tanggal 10-11 oktober 2015. Nah menurut penanggalan mereka saat itu tanggal 26-27 Kasalapan, mereka punya lebaran, tahun baru sendiri, pokoknya mereka semua serba sendiri.

Mereka sederhana tapi bukan berarti mereka terbelakang. Misi mereka satu menjaga bumi. Semoga Suku Baduy tetap ada di bumi

Amanat Buyut
Amanat Buyut

Tips jalan-jalan bareng pasangan

Pernah nggak sih ngebayangin bakal jalan-jalan di Eropa bareng sang Ke?
entah sang Kekasih entah sang Kekanan atau Kekiri . Nggak nyambung ya, abaikan! *Kibasjilbab
Well, saya nggak pernah sama sekali.
Cita-cita saya emang jalan-jalan ke berbagai negara kalau perlu sampai keliling dunia, tapi nggak pernah tuh sedetikpun bayangan bakal jalan-jalannya sama suami :p
Angan-angannya malah dulu gini, jalannya bareng temen-temen eh terus ketemu sama cowok asli sana atau cowok yang lagi backapakeran juga terus kita jalan bareng, nyasar bareng, cerita bareng, terus benih-benih cinta muncul gitu deh. Wakakak. Sempet cinlok sih pernah, tapi cuma bentar doank, nggak nyampe yang gimana juga. Cuma bumbu jalan-jalan. Maklum kena virusnya film-film sama buku-buku romantis. Hihihi

Jadi gini ceritanya disela ngerjain disertasi kemaren saya dan suami merencanakan jalan-jalan ke empat negara hehehe
Harusnya sih jangan ditiru ya, udah tahu harusnya otak dipakai buat ngerjain disertasi eh malah ngabur. Hahaha
Itu karena tiket kepulangan saya sudah diatur sama kantor pas banget selesai deadline disertasi. Daripada nggak bisa sama sekali, mending nekat aja. Hihihi.
Insya Allah lulus kok … Amien Ya Allah.

Yap, total perjalanan cuma 9 hari tapi udah keliling ke 4 negara. Hehehe, kebayang donk gempor dan kejar-kejarannya gimana sama yang namanya waktu. Kalau dibilang bulan madu, hemmm nggak juga ya. Kalau setau saya itu kan bulan madu kita cuma leyeh-leyeh, santai-santai, candle light dinner. Ini kagak… kagak ada sama sekali. Hahaha Style jalan-jalannya masih sama kok, ngejar-ngejar bus atau kereta, nyasar salah arah karena nggak ikutan tur, jalan kaki sampai gempor, makan dipinggiran, boro-boro candle light dinner. Sempet sih makan agak mahalan dikit tapi kagak ada lilinnya, nggak pas lagi di lidah. Abis itu balik lagi ke makanan jalanan.

Misua memandang takjub istrinya yg hiperaktif :p
Misua memandang takjub istrinya yg hiperaktif :p

Sebelum saya loncat cerita ke negara mana saja maennya, saya kasih dulu tipsnya jalan sama pasangan ya. Well, bener deh kalau jalan sama pasangan itu beda. Biar kita kompak selama dijalan saya kasih sedikit tipsnya. Walaupun sempet argue juga.. hahaha

1. Satukan visi misi tujuannya jalan-jalan nya apa, stylenya apa, budgetnya berapa. Ini tetep, soalnya kalau disamain visi misinya dari awal bakal argue mulu dijalan.
Misal nih, yang satu pengen jalan-jalan santai, satunya lagi pengen jalan-jalannya speednya cepet. Otomatis bakal berantem mulu tuh. Untungnya sih suami saya nurut-nurut aja dengan itinerary saya.

2. Hitung cermat saat belanja. Yang namanya cewek pasti pengen aja semua dibeli. Kalau ada duitnya sih nggak masalah. Nah, kalau backpacker kere kayak saya ya harus cermat-cermat itungnya. Nah, sebelum perjalanan saat emosi dan mood sedang stabil, bilang deh ke pasangan buat cegah saya kalau mau belanja aneh-aneh yang nggak penting. Soalnya kalau udah kejadian pasti saya bakal keras kepala, entar ngambek. Tapi nggak apa-apa, itu perlu deh buat ngerem hasrat belanja saya. Biasanya baru sadar barang itu nggak penting buat dibeli giliran udah pulang dan duit udah abis. Hehehe.

3. Bicarakan mau menginap di hotel, hostel atau yang lainnya. Kalau saya, karena jalan cuma berdua gini dan ingin suasana yang tenang lebih milih hotel. Walaupun agak mahal tapi tenang kalau mau ngapa-ngapain *eh. Soalnya gini loh kalau pasangan kan kadang butuh yang privasi and ketenangan. Kalau ramean dengan teman-teman saya memang lebih hostel, apalagi kalau pengin sekalian cuci mata and nambah temen (apalagi kalau ada yang ganteng, hihihi) kalau hostel memang lebih cocok.

4. Barang Bawaan. Well, kalau boleh jujur bagian yang paling enak kalau jalan sama pasangan adalah bawaan kita bisa berkurang, kan ada pasangan (Ini kalau kamu cewek yaaa). Soalnya kita bakal bisa ber argue kalau cowok kan lebih kuat, lebih keker, jadi harus bisa bawa yang lebih berat donk. Hihihi. Nah, kalau jalan sama temen mau barang banyak, mau barang dikit ya tanggung sendirilah. Saya anaknya itu berantakan, dan bisa dibilang ceroboh. Kadang nggak bisa ngatur barang bawaan, suka mauk-masukin sendiri. Nah kalau jalan sama suami itu, malah suami saya yang tersayang yang menata semua barang saya biar muat di tas atau koper. Saya cuma ngeluarin barang yang ingin saya pakai aja. Hihihi.

5. Debat tentang arah. Pernah donk ngalamin beginian, apalagi ke tempat yang belum pernah dikunjungi. Saya itu orangnya suka disorientasi arah. Kalau sama temen-temen cewek biasanya saya iya-iya aja ngikut kemana. Tapi kadang kalau jalan sama pasangan itu sifat keras kepala saya itu muncul, entah kenapa. Nah, disaat itulah biasanya jadi debat tuh soal jalan ke arah mana. Padahal udah tahu suka nyasar sendiri. Nah makanya, kalau emosi saya lagi stabil, saya selalu inget-inget lagi buat ngikutin kata pasangan kalau masalah arah. Hihihi.

6. Siapin baju cantik (buat cewek) buat nge-date. Jalan-jalan ngegembel bukan berarti baju kita juga kayak gembel. Apalagi kalau tempatnya spesial. Makanya saya bela-belain bawa baju cantik buat foto-foto bareng misua. Kapan lagi coba kesempatan kayak gini nggak bakal dateng sering. Mungkin bisa kesana lagi tapi mungkin keadaannya udah beda. Makanya baju itu juga penting. Pilih baju yang cantik, tapi ringan dibawa. Kemaren minimal satu negara harus ganti satu baju. Walaupun pada akhirnya kekurangan baju, tapi paling tidak foto-foto kita bakal tetap bagus. Hehehe

7. Siapin peralatan fotography lengkap. Well, saya termasuk orang yang narsis. Dimanapun suka foto,nyambung yang tadi diatas. Bawa baju yang bagus ya buat foto. Karena kami jalan cuma berdua akhirnya saya bawa tripod dan memory card kapasitas besar. Nggak mungkin soalnya harus minta tolong difotoin sama orang lain mulu kalau mau foto. Apalagi kalau nggak ada orang. Hehehe

8. Kenali kondisi tubuh masing-masing dan saling mengingatkan. Maksudnya ini buat jaga-jaga. Beda tempat, beda cuaca, beda makanan kadang mempengaruhi kondisi badan kita. Nah karena itu harus bawa obat-obatan dasar. Kalau kemana-mana saya selalu bawa tolak angin dan minyak kayu putih. Itu pengobatan dasar buat saya. Suamipun gitu Kondisi tubuh seseorang kan kita sendiri yang tahu. Jangan sampai giliran mau happy-happy malah sakit, ih nggak banget deh.

Cerita ke empat negaranya abis ini yah. Hehehe