Padang Sidempuan dan tetek bengeknya

Apa yang melintas di pikiran kamu saat saya mengatakan nama kota Padang Sidempuan. Well , for some people they think its part of Padang. Bahkan saya pun berpikiran seperti itu waktu mendengar nama kota itu pertama kali. Pasti nanya “Itu sebelah mananya Padang yak? ” Hahaha.

Terkadang kita terlalu berpikiran terlalu jauh kedepan nyari kota-kota yang ada di luar negeri, padahal kota dalam negeripun masih banyak yang belum tahu. Contohnya saya (tunjuk hidung sendiri). Saya berkunjung ke kota ini juga karena misua orang asli sana. Kalau nggak, mungkin seumur hidup saya akan berpikir kalau Padang Sidempuan ya bagian dari Padang.

Nah lebaran kemaren adalah kali ketiga saya berkunjung kesana. Tujuannya sama saja sih seperti orang-orang pada umumnya orang mudik. Silahturahmi itu pastinya. Saya suka sekali mengamati budaya ditempat baru. Nah saya ceritakan pengalaman saya ya:

  • Lampu lalu lintas tidak berlaku disana. Disana itu ada loh lampu lalu lintas yang warnanya merah, kuning dan hijau tapi sama sekali nggak berguna. Banyak pula yang sudah rusak, entah sengaja atau nggak. Saya naik mobil atau motor mau lampunya berwarna merah kek, nggak bakal dianggep.  Tetep aja jalan, saya yang teriak-teriak deg-deg an. “Lampu merah, lampu merah berhenti!” Eh malah kata misua kalau nggak jalan malah di klakson dari belakang. Sampai ada saudara yang bilang lampu lalu lintas itu seperti lampu taman aja disana. Aduh, aturan macam apa ini. Pantesan sering macet padahal cuma di kota kecil.  Jangan tanya dimana Pak Pol ya, ada sih disekitar situ… tapi entahlah mungkin dia lelah.
  • Serba mie… Seminggu disana rasanya perut begah banget dengan makanan yang bersantan. Rasa-rasanya semua jenis masakan dikasih santan, cuma sayur bening aja yang nggak. Nah, saya pengin deh gado-gado. Ya elah masa isinya cuma kangkung, tauge seuprit, timun dan mie gomak. Mie gomak lagi, mie gomak lagi… bener-bener merubah citarasa gado-gado deh. Lidah saya yang jawa ini merasa di khianati sama varian gado-gado disana.
  • Jalanan yang rusak dimana-mana. Secara administrasi Kota Padang Sidempuan ini adalah salah satu Kotamadya di daerah Tapanuli Selatan. Tapi yang bikin ngenes itu jalan raya nya banyak yang berlubang, bahkan ditengah kota. Nggak ushalah jauh-jauh sampai pedalaman. Lihat saja depan pasar, depan kantor kotamadya dan bahkan DPR nya, depan mall pokoknya sekitar situ lah. Jalanannya jelek banget. Padahal jalan utama loh. Nggak ada yang mengkritisi kah? Atau mulutnya sudah di bungkamkah? Ah entahlah juga… Jangan tanya saya
  • Nemu makanan unik. Saya baru tahu kalau rotan bisa dimakan. Jadi ranting rotan muda di bakar. Setelah itu bakal keliatan isinya yang warnanya putih. Biasanya di campur dengan potongan bawang dan cabai rawit setelah itu jadi lauk deh. Rasanya agak sepet-sepet pahit. Mungkin kalau yang belum biasa kayak saya makan 2 biji aja udah cukup kali ya.

IMG-20160722-WA0046 IMG-20160722-WA0044

Rotan bakar
Rotan bakar
  • Sebagai daerah penghasil salak, nggak heran kalau sebenarnya daerah ini menyimpan pemandangan alam yang cantik. Kemaren saya menyasarkan diri ke Gunung Sibual-Buali. Sebenarnya menurut saya bukan exactly gunung sih, tapi memang lumayan tinggi. Sudah banyak cottage dan villa (mungkin) sampai kolam pemancingan. Waktu saya kesana, banyak juga muda-mudi yang maennya kesana. Yah, dimana lagi kalau mau refreshing. Apalagi pemandangannya cantik. Dan jangan salah saya nemu durian yang harganya murah loh. Jadi puas deh makan durian.

IMG-20160722-WA0042 IMG-20160722-WA0043

Gunung Sibual-Buali
Gunung Sibual-Buali

Well, kalau ditanyain soal bahasa saya nyerah ya. Nggak tahu sama sekali ya boo. Paling kalau diajak ngobrol dan mereka pakai bahasa asli, saya cuma senyum-senyum aja. Paling misua yang ngomong intinya sih nggak ngerti bahasa sana. Hahaha.