Sebelah Negeri Laskar Pelangi a.k.a Kepulauan Bangka

Sembari menunggu datangnya sore setelah semua kerjaan beres akhirnya bisa nge blog juga. Aktivitas yang sudah jarang-jarang saya lakukan dengan alasan males sibuk. Kali ini saya mau cerita tentang jalan-jalan saya ke Pangkal Pinang Kep Bangka Belitung dalam rangka jalan-jalan sambil kerja. Eh kebalik ding !

Pantai Parai Kepulauan Bangka.
Pantai Parai Kepulauan Bangka.

Banyak yang nyangka kalau ke Pangkal Pinang itu ya pasti ke Belitung, begitupun saya, karena awalnya saya mengira kalau Pangkal Pinang dan Belitung itu satu pulau. Nyatanya mereka adalah 2 putri yang tertukar pulau yang berbeda. Pangkal Pinang adalah ibukota provinsi Bangka Belitung dan terletak di Pulau Bangka. Nah, ternyata Belitung itu beda pulau lagi. Padahal saya ngidam banget pengin lihat pantai yang buat shooting Laskar Pelangi. Awalnya merasa, ihhh dodol banget sih saya… peta Indonesia aja belum hapal. Tapi nyatanya pemandangan di Pulau Bangka ini menarik juga kok apalagi kulinernya. Mantaaappp!!!

Saya sempetin seharian muter-muter Pangkal Pinang setelah kerjaan selesai. Sengaja milih pesawatnya paling sore, biar bisa jalan-jalan. Tujuan pertama adalah Parai Beach Resort dan pemandangannya bikin saya merinding. Ternyata typical pantai di Bangka nggak kalah dengan pantai di Belitung. Batuan-batuan besar , pasir putih yang lembut, airnya jernih ditambah lagi suasana resortnya yang oke punya. Betah deh berenang di situ, apalagi ngga ada ombak dan pantainya juga landai. Kalaupun cuma mau nongkrong dan foto-foto doank juga oke. Nyiur melambainya bikin ngantuk. Anyway, kandungan saya udah 4 bulan dan alhamdulillah emaknya dedeknya seneng.

20161026_12222320161026_121311

Nah disini juga ada bangunan yang menarik namanya Puri Tri Agung yang berlokasi di kawasan Pantai Tikus Sungailiat Kabupaten Bangka dan yang unik lagi tempat ini adalah kawasan tempat ibadah/sembahyang bagi Agama Budha, Khongfutze dan Laotze. Jadi ada 3 patung dalam satu tempat ibadah. Tempatnya keren ada diatas bukit dan bisa melihat lautan yang membentang luas apalagi di tambah angin yang semilir sepoi-sepoi. Rasanya adem ayem disini. Selain itu interior nya dan arsitektur bangunanya juga keren. Dominan warna emas dan merah bikin Puri Tri Agung ini jadi lebih eyecatching. 

20161026_104807.jpg
Puri Tri Agung
20161026_110031
3 kepercayaan satu tempat ibadah
20161026_110332
Dupa di Puri Tri Agung

Nah terakhir saya berkunjung ke Locomotive, tempat hang out yang konsepnya menarik banget. Disitu ada galeri seni seperti lukisan dan kerajinan tangan karya asli sana. Apalagi gimmick-gimmick interiornya juga unik jadi betah disana. Selain ada restauran, galeri seni, ada juga permainan air loh kayak speed boat, banana boat dan lain-lain. Yang lebih penting lagi disana ada yang namanya penangkaran penyu. Disitu bakal dikasih liat tempat bertelurnya penyu, tempat penyu menetas, tempat karantina penyu sebelum di lepaskan ke laut dan ada juga fasilitas learning untuk konservasi. Tempat menarik ini bisa jadi pilihan buat wisata dan juga edukasi.

Bumil yang maunya tetep eksis :D
Bumil yang maunya tetep eksis 😀
The Locomotive Pangkal Pinang
The Locomotive Pangkal Pinang
Penangkaran penyu di The Locomotive
Penangkaran penyu di The Locomotive
Dipisah-pisah kolamnya menurut umurnya
Dipisah-pisah kolamnya menurut umurnya

Jangan lupa icip-icip kulinernya yang khas disini adalah Luwah kuning yang terbuat dari kepala ikan tenggiri, rasanya seger banget. Walaupun kelihatannya kental banget tapi nggak bikin eneg karena memang rasa jeruk dan segernya berasa banget. Selain itu cobain juga otak-otak ikan tenggiri asli Pangkal Pinang yang ikan tenggirinya berasa banget, pokoknya beda deh dengan otak-otak yang selama ini makan.

Kepulauan Bangka Belitung ini terkenal sama timahnya. Dulu waktu timah masih berjaya sebutannya emas hitam karena memang harganya tinggi. PT Timah masih ada di Kepulauan Bangka walaupun katanya prediksi untuk mendapatkan timah di Bangka hanya 20 tahun lagi. Disini bakal banyak di lihat kapal-kapal dilaut yang menyedot timah didalam laut. Kalau di Kepulauan Belitung katanya kapal-kapal pengebor timah sudah di usir  karena masyarakatnya sadar karena penambangan timah bisa merusaha sumber daya alamnya dan mereka menggantungkan hidupnya dengan wisata. Well, Laskar Pelangi jadi magnet kuat memang untuk wisata disini.

Rugi pokoknya kalau belum pernah menginkan kaki di Kepulauan Bangka Belitung ini.

Iklan

Padang Sidempuan dan tetek bengeknya

Apa yang melintas di pikiran kamu saat saya mengatakan nama kota Padang Sidempuan. Well , for some people they think its part of Padang. Bahkan saya pun berpikiran seperti itu waktu mendengar nama kota itu pertama kali. Pasti nanya “Itu sebelah mananya Padang yak? ” Hahaha.

Terkadang kita terlalu berpikiran terlalu jauh kedepan nyari kota-kota yang ada di luar negeri, padahal kota dalam negeripun masih banyak yang belum tahu. Contohnya saya (tunjuk hidung sendiri). Saya berkunjung ke kota ini juga karena misua orang asli sana. Kalau nggak, mungkin seumur hidup saya akan berpikir kalau Padang Sidempuan ya bagian dari Padang.

Nah lebaran kemaren adalah kali ketiga saya berkunjung kesana. Tujuannya sama saja sih seperti orang-orang pada umumnya orang mudik. Silahturahmi itu pastinya. Saya suka sekali mengamati budaya ditempat baru. Nah saya ceritakan pengalaman saya ya:

  • Lampu lalu lintas tidak berlaku disana. Disana itu ada loh lampu lalu lintas yang warnanya merah, kuning dan hijau tapi sama sekali nggak berguna. Banyak pula yang sudah rusak, entah sengaja atau nggak. Saya naik mobil atau motor mau lampunya berwarna merah kek, nggak bakal dianggep.  Tetep aja jalan, saya yang teriak-teriak deg-deg an. “Lampu merah, lampu merah berhenti!” Eh malah kata misua kalau nggak jalan malah di klakson dari belakang. Sampai ada saudara yang bilang lampu lalu lintas itu seperti lampu taman aja disana. Aduh, aturan macam apa ini. Pantesan sering macet padahal cuma di kota kecil.  Jangan tanya dimana Pak Pol ya, ada sih disekitar situ… tapi entahlah mungkin dia lelah.
  • Serba mie… Seminggu disana rasanya perut begah banget dengan makanan yang bersantan. Rasa-rasanya semua jenis masakan dikasih santan, cuma sayur bening aja yang nggak. Nah, saya pengin deh gado-gado. Ya elah masa isinya cuma kangkung, tauge seuprit, timun dan mie gomak. Mie gomak lagi, mie gomak lagi… bener-bener merubah citarasa gado-gado deh. Lidah saya yang jawa ini merasa di khianati sama varian gado-gado disana.
  • Jalanan yang rusak dimana-mana. Secara administrasi Kota Padang Sidempuan ini adalah salah satu Kotamadya di daerah Tapanuli Selatan. Tapi yang bikin ngenes itu jalan raya nya banyak yang berlubang, bahkan ditengah kota. Nggak ushalah jauh-jauh sampai pedalaman. Lihat saja depan pasar, depan kantor kotamadya dan bahkan DPR nya, depan mall pokoknya sekitar situ lah. Jalanannya jelek banget. Padahal jalan utama loh. Nggak ada yang mengkritisi kah? Atau mulutnya sudah di bungkamkah? Ah entahlah juga… Jangan tanya saya
  • Nemu makanan unik. Saya baru tahu kalau rotan bisa dimakan. Jadi ranting rotan muda di bakar. Setelah itu bakal keliatan isinya yang warnanya putih. Biasanya di campur dengan potongan bawang dan cabai rawit setelah itu jadi lauk deh. Rasanya agak sepet-sepet pahit. Mungkin kalau yang belum biasa kayak saya makan 2 biji aja udah cukup kali ya.

IMG-20160722-WA0046 IMG-20160722-WA0044

Rotan bakar
Rotan bakar
  • Sebagai daerah penghasil salak, nggak heran kalau sebenarnya daerah ini menyimpan pemandangan alam yang cantik. Kemaren saya menyasarkan diri ke Gunung Sibual-Buali. Sebenarnya menurut saya bukan exactly gunung sih, tapi memang lumayan tinggi. Sudah banyak cottage dan villa (mungkin) sampai kolam pemancingan. Waktu saya kesana, banyak juga muda-mudi yang maennya kesana. Yah, dimana lagi kalau mau refreshing. Apalagi pemandangannya cantik. Dan jangan salah saya nemu durian yang harganya murah loh. Jadi puas deh makan durian.

IMG-20160722-WA0042 IMG-20160722-WA0043

Gunung Sibual-Buali
Gunung Sibual-Buali

Well, kalau ditanyain soal bahasa saya nyerah ya. Nggak tahu sama sekali ya boo. Paling kalau diajak ngobrol dan mereka pakai bahasa asli, saya cuma senyum-senyum aja. Paling misua yang ngomong intinya sih nggak ngerti bahasa sana. Hahaha.

 

Curug Penganten yang Tersembunyi

Mudik lebaran kalau nggak diselingi jalan-jalan kayaknya kurang afdhol ya. Apalagi kalau muter ke saudaranya udah semua. Kemaren saya nyari sesuatu yang nggak biasa, maunya yang belum terlalu dikenal orang, nggak mainstream biar nggak dibilang pasaran.

Kalau ke daerah Tegal yang terkenal pastinya Guci, daerah pemandian air panas di kaki gunung Slamet. Saya nggak pengen kesana karena pasti penuh sesak manusia. Boro menikmati air panasnya . Nyari tempat buat duduk aja biasanya susah.

Searching-searching dan nanya di group akhirnya pilihan saya jatuh ke Curug Penganten. Sebenarnya nggak sulit aksesnya kesana. Apalagi tempatnya deket SMA 1 Bojong. Tapi karena namanya baru pertama jadinya bolak-balik nanya jalan plus keujanan gede pula. Saya nggak bawa jas hujan terpaksa harus ngiyup beberapa kali. Memang daerah ini terkenal dengan hujan lokalnya. Di Slawi Tegal panas ngentak-ngentak, eh daerah Bumijawa dan Bojong bisa jadi hujan sehari-hari.

Dan akhirnya kami sampai juga. Karena belum seterkenal curug lainnya jadi nggak terlalu ramai parkirannya. Hahaha. Iya, saya baru sampai parkirannya aja. Kalau ke curugnya harus turun ke pematang sawah. Turunannya itu loh licin banget. Pokoknya harus persiapan alas kaki yang kuat deh. Satu lagi, kita kan mau main di alam ya boo. Jadi nggak usah pakai dan bawa barang yang aneh-aneh deh. Mending kalau cuma nyusahin diri sendiri tapi seringnya nyusahin orang lain juga.

Walaupun di kampung, anak alay yang mau eksis ternyata ada juga. Udah tahu mau ke curug yang pasti becek dan berlumpur masih ada aja yang pake sandal selop tinggi. Ah, saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Turunnya susah naiknya apalagi. Mungkin biar cantik kali ya, mungkin biar eksis kali ya, mungkin biar keren kali ya. Tapi ya  Mas Mba kan harus lihat tempat dulu mau kemana. Salah satu imbas sosial media salah satunya ya ini ;p

Oke, nggrundelnya udah. Sekarang balik lagi ke perjalanan kesana. Anyway, sebenarnya di satu lokasi itu ada 2 curug. Curug Penganten sama Curug Luhur, cuma beda arah aja. Karena saya kesana juga udah kesorean, saya memutuskan milih Curug Penganten aja karena kayaknya lebih bagus aja. Satu curug bercabang dua….cekidot.

20160713_150944
Curug Penganten dari samping

 

20160713_151826
Curug Penganten dari Tengah
20160713_151915
Penunggu Curug Penganten (ini misua deng ;p)

Rafting di Sungai Citarik bareng Arus Liar

Ini pengalaman pertama  saya rafting. Tapi jangan khawatir, selalu ada yang pertama untuk segala sesuatu kan.

Dalam bayangan saya sebelumnya kalau melihat foto atau video rafting, tingkat kesulitannya tinggi. Soalnya harus mendayung ditengah arus yang kelihatannya mengerikan. Belum lagi kalau misalnya banyak batu-batu, pasti kebayangnya nanti kalau jatuh kepentok gimana.

Rafting Citarik
Rafting Citarik

Tapi semua bayangan mengerikan itu seketika hilang ketika saya mencobanya sendiri. Hari Sabtu kemaren saya menuju Sukabumi tepatnya di Arus Liar ingin menjajal sungai Citarik. Katanya Jakarta-Cikidang, Sukabumi normalnya 4 jam, tapi saya harus menempuh waktu 7 jam. Rencana saya untuk rafting jam 1 siang gagal sudah, karena baru sampai site aja jam 1 siang. Mungkin ini salah saya juga sih. Jadi gini ceritanya, karena sudah stuck di jalan gara-gara macet di Sukabumi yang entah lupa disebelah mananya, akhirnya saya mengikuti jalur alternatif yang diberikan oleh Google maps. Disini saya baru sadar, seharusnya saya tak percaya sepenuhnya dengan aplikasi ini. Iya sih jalalannya sepi tapi jelek. Udah terlanjur masuk ya udah diterusin dengan harapan akan menemui jalan raya yang mulus. Ternyata nggak juga nemu. Jarak tempuhnya jadi pendek sih, tapi kalau begini caranya mobil saya yang hancur. Akhirnya saya tutup Google maps, mending nanya orang deh. Akhirnya ditunjukin jalur yang benar yang bisa tembus ke jalan raya.

Yeay!
Yeay!
Yippy.. lulus :D
Yippy.. lulus 😀

Saya nginep di Kampung Ngaloen yang ratenya 395.000/orang isi 2 orang. Harga berbeda tergantung tipe cottage dan jumlah orang yang menempati.Disini ada 3 tipe cottage, pun kalau mau pakai tenda juga bisa.  Viewnya keren karena langsung depan Sungai Citarik, apalagi ada air terjunnya. Saya bisa main air dan mandi-mandi disitu termasuk ngeliat orang yang lagi rafting. Harga segitu udah ditanggung breakfast sama makan malam. Makan siang include ke paket rafting.

Mungkin misua terobsesi jadi Samson, makanya angkat-angkat batu ;p
Mungkin misua terobsesi jadi Samson, makanya angkat-angkat batu ;p

Akhirnya minggu pagi kami rafting juga. Mulai jam 8 pagi. Sebelum mulai, kami di brief dulu. Ternyata ada kode-kodenya dan cara pegang alatnya. Yang jelas rafting ini aman banget karena ada helm dan life jacketnya. Selama rafting nggak cuma monoton dayung aja, tapi bisa berenang di spot tertentu. Ditambah lagi guidenya juga kocak, kadang malah sengaja nyeburin kita.Sempet jatuh-jatuh waktu diawal, mungkin belum seimbang tapi setelah itu asik aja loh. Walaupun kejebur juga malah ok-ok aja,malah seru!

Selain itu beberapa kali kami melihat biawak nangkring dibatu atau di pinggir sungai. Mau banget deh di lihat sama kita 😀  Lihat banyak biawak disekitar situ which means  keseimbangan alamnya masih lumayan bagus karena masih ada satwa liar disitu ( nggak mungkin kan biawak diternak :p). Oh iya saya ambil yang 9 km sekitar 2 jam harganya 295.000/orang . Kalau mau lihat pricelist lengkapnya bisa disini. Nggak usah ragu-ragu deh kalaupun baru nanya-nanya aja. Orangnya ramah banget kok. Makanya saya nyaman disini dan lagi masakannya juga lumayan enak kok.

Seru kan
Nusa Cottage menjelang malam
Nusa Cottage menjelang malam

Anyway, kalau mau foto saat rafting saran saya langsung aja pesen yang soft copynya. Emang sih harganya lumayan 150.000/CD tapi daripada di cetak malah nanti ilang atau rusak kan.  Nggak cuma rafting aja loh. Disini juga bisa gathering, paint ball, flying fox, dll. Tergantung permintaanya apa yang penting berhubungan sama alam dan aktivitas ya.

 

 

Terapi Sengat Lebah di Taman Wisata Lebah

Udah ada yang pernah disengat lebah? Kalau saya dulu waktu kecil karena mainnya suka di semak-semak.Hihihi

Nah saya kemaren sengaja di sengat lebah buat terapi. Iseng-iseng baca blog , tapi saya lupa namanya (maafkeun) katanya bisa buat terapi kesuburan juga, maklum saya juga lagi program. Hihihi. Oh ya namanya Taman Wisata Lebah dan tempatnya nggak jauh dari Jakarta kok. Pintu keluar tol Cibubur langsung sebelah kirinya. Saya kemaren sempet kelewatan dan akhirnya harus muter lewat Buperta dulu dan bayar 9 ribu. Yah nggak apa-apa sih namanya juga baru pertama kan.

20160625_101450

Giant bee 😀

Bisa dibilang di Taman Wisata Lebah ini kayak On Stop Healing, hehehe *maksa. Jadi bukan cuma terapi lebah aja, disitu ada juga bekam, cek darah sama sedot lintah. Kalau yang terapi sedot lintah agak-agak ekstrim sih, geli-geli gimana gitu dan saya belum berniat nyoba. Saya kesana hari Sabtu dan alhamdulillah lagi nggak ngantri jadi langsung dilayani sama mbak-mbaknya. Karena baru pertama saya disengat di 4 titik which means 4 lebah diperut. Sakit sih yang pertama-tama, tapi yang seterusnya udah nggak terlalu kok. Kata mbaknya ada efek sampingnya, biasanya bakal gatal. Kalau gatal sebisa mungkin jangan digaruk, kasih minyak kayu putih. Atau bisa aja demam, nah kalau nggak kuat bisa minum obat demam biasa. Nah kalau ternyata alergi yang membuat merah-merah sekujur tubuh baru deh minum kelapa muda atau susu sebagai penetlalisir racunnya.

20160625_085653

Setelah memberikan racunnya atau obat kali ya… mereka rela dirinya mati loh buat menyembuhkan manusia

20160625_100306

Salah satu kandang lebah penghasil madu

Taman Wisata Lebah

Suami saya di bekam di 12 titik dan total yang harus kami bayar berdua cuma Rp. 160.000. Lumayan murah kok. Saya juga beli madu super nya satu botol 90 ribu. Untuk ukuran madu asli itu termasuk murah loh.

20160625_100730

Pasukan bersih-bersih sampah selalu siap sedia

Bukan cuma itu aja loh, di Taman Wisata Lebah bisa bermain sambil belajar juga. Kenapa saya percaya banget kalau madunya asli, ya karena saya bisa lihat langsung peternakan lebahnya disitu diantara pohon randu dan tatanan taman yang cantik. Ditambah lagi banyak bangunan goa yang bentuknya lucu-lucu plus mainan anak-anak juga. Nggak heran di papan kunjungan banyak banget kunjungan dari anak TK sama SD.

Day 4 Nami island and Petite France

Maaf nge-blognya lompat-lompat ya… Niat sih dari kemaren-kemaren ada. Tapi nulisnya itu loh. Malesnya minta ampuunnn… Kena sindrom blogger males kayaknya. Melanjutkan jalan-jalan kita di Korea ya

Day 4, time to Nami Island and Petite France 😀

Bagi pecinta drama Korea yaitu  Winter Sonata pasti tahu banget Nami Island. Kalau saya sih nggak terlalu tahu drama itu, jadi ya dalam imajinasi saya Nami island ya pulau di tengah laut dan nyatanya pulau di tengah danau tapi dengan kemasan yang unik dan cantik.

DSCN4130

Orang Korea itu oke banget deh kalau mengemas suatu tempat wisata. Yang seharusnya biasa aja bisa jadi menarik. Asal tahu aja ya…di sana banyak selebaran wisata yang isinya spot-spot shootingnya film Korea. Yah, sekarang ini drama Korea memang sedang berjaya di seluruh dunia. Saya pun suka drama Korea karena ceritanya yang memang bagus dan pemainnya  ganteng.  dan nggak akting berlebihan. Inget donk kalau sinetron Indonesia pemainnya gimana. Matanya dipicing-picingin, tidur aja bedaknya tebel banget, selalu ada head voice sambil ekspresi muka aneh, yang jahat ya jahat banget, yang baik ya keterlaluan baiknya. Bukan maksud ngeledek produksi dalam negeri ada sih yang bagus, tapi… ya sudahlah.

Tuh kan kebiasaan jadi ngglambyar. Balik lagi ke Nami island deh.

Dari Seoul 2 jam perjalanan naik kereta ke Nami Island. Biar murah mending naiknya bis aja. Bisa sih naik taxi, tapi yah lumayan mahal lah. Kalau bus tour ini nggak akan bayar-bayar lagi kalau mau pergi ke lain tempat. Sayangnya waktunya cuma sehari jadinya cuma bisa ke Nami island sama Petite France. Itupun udah menggigil kedinginan.

Ini katanya spot First Kiss di Winter Sonata
Ini katanya spot First Kiss di Winter Sonata

Ke Nami island katanya bagus kalau pas musim semi. Tapi menurut saya winter pun tempat ini sempurna. Ditambah banyak ornamen-ornamen winter. Jangan lupa disana ada spot-spot buat shooting film Winter Sonata yang ditunjukin gambarnya dari adegan ciuman, pegangan tangan, sampai pelukan. Hahaha. kalau di Indonesia mungkin udah di gerebek FPI ada simbol-simbol begitu. Wakakak. Temen saya yang nge fans banget sama Winter Sonata sampai naik di patungnya mereka berdua. Nggak naik diatasnya loh ya, cuma naik di atas kaki patungnya aja.

Welcome to Nami Island
Welcome to Nami Island
Cantiknya winter di Nami Island :D
Cantiknya winter di Nami Island 😀

Buat yang muslim jangan kuatir buat sholat karena disini udah tersedia mushola dan kalau mau makan pun nggak usah takut karena ada restaurant halal disini.

Waktu itu jam udah menunjukan jam 3, kami memutuskan untuk segera keluar dari Nami island biar bisa ngejar Petite france yang jaraknya lumayan jauh. Walaupun kami dapet bis, tapi kami harus berdiri dan kebayang donk jalanan pegunungan gitu, rasanya udah mau mual aja. Keluar dari bis kami bertiga pusing-pusing dan mual. Nongkrong dipinggir jalan menstabilkan badan dan perasaan. Buset dah tuh bus berasa naik roller coaster.

DSCN4150

Ini yang bikin unik
Ini yang bikin unik

Masuk ke Petite France memang berasa kayak di Eropa beneran. Arsitekturnya, dekorasinya semua-semuanya mengingatkan saya sama desa di Inggris 😀 Ada miniatur Eifel dan sosok Petite France tentu saja. Memang luasan wilayahnya nggak terlalu luas tapi banyak spot yang bisa buat foto-foto dan ditambah lagi karena ini salah satu tempat shootingnya My Love from the Star eh ada juga layar tivi yang ada adegan di Petite Francenya. Itu mulu yang diulang-ulang. hahaha.  Disini juga ada rumah dan isinya yang bergaya eropa, sampai barang pecah belahnya.

Arsitektur gaya Eropa di Korea
Arsitektur gaya Eropa di Korea

DSCN4240

Tempat ini semakin cantik waktu pas hujan salju loh, apalagi ditambah kelap kelip lampu. Sedikit mengobati kerinduan saya sama UK #gagalmoveon.

Udah baca bukunya belum?
Udah baca bukunya belum?
Interior di salah satu rumah
Interior di salah satu rumah

Anyway, cerita sedikit waktu saya sarapan di hostel ketemu sama anak-anak Korea yang lagi liburan di Seoul. Yang bikin bangga adalah mereka tidak hanya tahu Bali tapi tahu Indonesia :D. Mitos Bali lebih terkenal daripada Indonesia telah terpatahkan di Seoul. Hihihi.

 

Longweekend di Krakatau

Longweekend kemana aja??

Awalnya sih nggak pengen kemana-mana, pengen leyeh-leyeh aja di kamar biar bisa istirahat total. Mungkin saya terlalu lelah. Hayati lelah bang! hehehe

Tapi ternyata Misua ngajakin jalan-jalan sama temen kantornya. Nggak ikut, kasian dianya sendirian ya akhirnya dengan kepasrahan ikut aja. Berhubung ini temen maen dan budget terbatas jadinya kami-kami ini ikutan open trip,. Kebayang donk ikutan trip yang jumlah penduduknya ada 57 orang. Saya penasaran sih sama gimana sistem koordinasinya. Yang sebenarnya simple aja yaitu Grup Whatsapp.

Jam 7 malam kami sudah diwajibkan ngumpul di Slipi Jaya buat nyari bus jurusan Merak. Agak susah nyari yang kosong mengingat ini longweekend. Untungnya tetep dapet tempat duduk. Biayanya 30 ribu.  Bisnya lumayan ber AC kok, tapi tempat bagasinya sempit jadi nggak muat buat tas terpaksa tas saya pangku deh. Nah ada nih kejadian yang bikin kesel. Udah tahu bus ber AC masih ada aja orang dengan nggak tahu malunya ngerokok. Saya tegur donk. Kalau nggak bisa naik bis ber AC mending sono naik odong-odong. Ganggu orang banget soalnya.

Sampai Merak kami harus nunggu teman-teman yang lainnya datang karena memang nggak muat dalam satu bis. Baru sekitar jam 11 malem dapet tiket dan masuk kapal. Kalau dipikir-pikir gaya jalan-jalan saya sekarang beda loh. Kalau dulu jaman masih kuliah dan nggak punya duit mau tidur dimana aja, mau naik apa aja boleh-boleh aja. Tapi sekarang aduh males banget kalau mau gituan. Mungkin udah faktor U dan udah punya duit walaupun dikit-dikit. Bayangin aja daripada saya harus duduk di deck kapal yang sempit-sempitan dan kena angin malem mending saya nyari ruang eksekutif walaupun harus ngeluarin duit tapi masih mending manusiawi bisa istirahat. Hehehe

Nyampe di Bakauhuni sekitar jam 2 pagi. Harus nunggu lagi angkot yang akan membawa kami ke Darmaga Canti. Eh ditunggu-tunggu belum dateng juga. Giliran dateng harus ngantri lagi nggak jelas angkotnya yang mana. Sempet  mau esmosi juga. Udah sejaman berdiri disitu nunggu malah nggak nongol-nongol. Eo nya itu loh kurang koordinasi banget dah. Sampai Darmaha Canti  badan rasanya mau remuk, walaupun bisa selonjoran di kapal tapi saya tetep nggak bisa tidur. Pokoknya udha nggak enak rasanya badan dah. Tapi udah niat mau kesini ya harus dinikmati kan, sayang kalau nggak. Sebelum naik kapal ke spot snorkeling, kami ganti baju jadi nanti bisa langsung nyemplunk.

13178026_10208044094013718_122663481340638993_n

Pulau Sebuku Kecil

Pertama kami maen ke Pulau Sebuku Kecil, nggak terlalu spesial sih cuma main di pantai. Lanjut ke Sebuku Besar yang ini lumayanlah bisa snorkeling sepuasnya. Cape tapi lumayan terobati dengan indahnya kehidupan laut Sebuku Besar walalupun ada beberapa karang yang udah rusak. Jangan nanya fotonya yak karena saya nggak punya kamera underwater :p

Abis itu saya ke Pulau Sebesi tempat menginap. Harus nunggu kamar kosong selama 2 jam, lama benerrrr… Untungnya mereka punya kamar mandi dibelakang, jadi nggak perlu nungguin kalau mau dapet kamar. Makanan udah dimasakin lumayan lah rasanya . Malemnya paling chit chat aja. Itupun tidur cepet. Capek abis booo…

Penginapannya dari segi fasilitas sudah lumayan lah. Satu kamar disediain 10 kasur single, 1 kamar mandi, 1 kipas angin. Tapi saya dan misua memutuskan tidur di luar aja  bair kena angin sepoy-sepoy.

Nah sampailah kami pada saat harus bangun jam 3 pagi buat persiapan ke Anak Gunung Krakatau. Kenapa cuma disebut anak, karena mamanya udah nggak ada. Meletus di tahun 1883. Naik boat 2 jam sampai sana udah banyak orang. Tapi untungnya masih pagi jadinya enak buat nanjak dan nggak terlalu panas. Tapi memang luar biasa ya ciptaan Tuhan itu. Gunung yang sudah meletus hampir 133 tahun lalu, muncul lagi dari bawah dan membentuk gunung baru yang tak kalah indahnya. Jangan bayangin gunungnya terlalu tinggi ya. Jalurnya sudah enak dan tidak terlalu tinggi kok. Anak-anak aja masih bisa naik asal selalu didampingi orang tua ya. Sayangnya masih ada aja anak-anak alay yang buang sampah sembarangan. Bikin gemessss….

Waktunya pulang dan snorkeling lagi, tapi saya memutuskan untuk nggak nyemplung lagi. Gimana mau nyemplunk, air lautnya kotornya minta ampun. Masa mau berenang di tumpukan sampah… ogah.Aduduh entah darimana datangnya sampah-sampah ini. Mungkin kami sebagai turis juga turut berkontribusi sebagai penyumpang sampah.

Please, jadilah traveler yang cerdas…

Saya juga mau sharing plus minusnya pakai open trip

Open trip kali ini kurang terkoordinir dengan baik. Mulai dari pemberangkatan sampai pulang jadwalnya molor semua. Saya pulang duluan naik kapal Bakauhuni-Merak karena nunggu yang lain leletnya minta ampun. Mending beli tiket sendiri daripada bengong nggak jelas nungguin yang lainnya.

Enaknya ya lebih murah, nggak ngurusin satu-satu untuk ijin atau nyari penginapan dan kapal.

Anyway, sunrise dari Sebesi ke Krakataunya cantik sekali… 😀