Budaya organisasi Google

Apa sih yang sebenarnya lagi nge-hitz dalam organisasi? Ada sebagian orang yang bilang karir, ada lagi yang bilang upah/gaji, atau ada lagi yang baru lagi manajemen SDM. Saya kira jawabannya bukan itu semua.

Jawaban untuk pertanyaan diatas sebenarnya mudah yaitu budaya organisasi. Saya yakin sebagian besar organisasi sedang berlomba-lomba membangun budaya atau value masing-masing. Dari yang penyebutannya paling simple sampai yang harus bikin bibir njelimet. Semua itu nggak masalah  asal betul-betul dilaksanakan dan dihayati oleh semua karyawan dan pihak manajemennya. Sayangnya yang terjadi adalah kebanyakan value-value itu hanya sebagai slogan saja. Nah, tulisan ini sebagai media sharing aja bagaimana budaya organisasi bisa established secara mantap.

istilah “culture” sendiri berasal dari ilmu sosial antropology pada akhir abad 19 yang diawali dengan penelitian tentang  Primitive Community- Eskimo, South Sea, African, Native American yang mengungkap tentang kehidupan mereka.

Kita mulai dengan pengertiannya dulu yuk biar paham.

Hodge, Anthony dan Gales (1996) mendefinisi kan budaya organisasi adalah konstruksi dari dua tingkat karakteristik, yaitu karakteristik organisasi yang kelihatan (observable) dan yang tidak kelihatan (unoservable).

Larissa A. Grunig, et.al.., mengatakan budaya organisasi adalah totalitas nilai, simbol, makna, asumsi, dan harapan yang mampu mengorganisasikan suatu kelompok yang bekerja secara bersama-sama.

Budaya organisasi menurut Walter R. Freytag mengatakan  bahwa budaya organisasi adalah asumsi-asumsi dan nilai-nilai yang disadari atau tidak disadari yang mampu mengikat suatu organisasi. Asumsi dan nilai tersebut menentukan pola perilaku para anggota di dalam organisasi.

Budaya organisasi mempunyai efek yang kuat pada organisasi itu sendiri dan manajemen yang ada didalamnya. Saat ini semua orang pasti tahu tentang  Google. Saya masih ingat saat SD dulu harus punya buku RPUL (Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap). Jadi kalau mau cari apa saja nyarinya disitu kalau Bapak sama Ibu nggak bisa jawab pertanyaan saya. Tapi jaman memang benar-benar berubah dengan cepat ya. Sekarang semua orang pasti meng “Google” kalau mau cari sesuatu. Memang praktis dan cepat.

Google ini didirikan oleh dua sahabat Larry Page dan Sergey Brin di tahun 1996.  Mereka berdua adalah lulusan Stanford University dan tak dinyana pada tahun 2009, Google digunakan oleh 1 juta orang per hari sebagai web search engine. Seiring dengan berkembangnya inovasi-inovasi dari Google seperti Gmail, Google Earth, Google Maps dan Picasa. Google juga  menambah tenaga kerjanya dari 10 tenaga kerja yang bekerja di dalam garasi menjadi 10.000 tenaga kerja yang tersebar di dunia pada tahun 2009.  Pasti semua orang bertanya, apa sih yang formula suksesnya? Mari kita bedah ya.

Google adalah perusahaan pertama yang mengutamakan slogan users first.  Sementara perusahaan lain fokus kepada marketing dan layanan iklan untuk meningkatkan pendapatan mereka, Google dengan beraninya mengubah paradigma itu semua. Jika diperhatikan tampilan google itu  hanya logo dan search box saja kan, tanpa embel-embel iklan atau lain. Google bertahan untuk tidak menampilkan iklan, karena perusahaan merasa itu akan mengganggu user. Google mengutamakan  user experience, sebelum uang dan keuntungan. Hal ini yang menjadi salah satu faktor pencapaian mereka. Kelihatannya simple, tapi jika penggunanya sudah skala besar dan user merasa puas tentu saja pendapatan akan datang dengan sendirinya.

Sumber: Google

Faktor lainnya lagi adalah perusahaan berusaha membuat karyawannya senang dan gembira merupakan nilai yang benar-benar mereka terapkan. Google sengaja membuat lingkungan kerja  agar benar-benar menarik, memotivasi dan berupaya mempertahankan karyawan terbaiknya. Pada tahun 2007 Google menduduki peringkat pertama Best Place to Work For oleh Majalah Fortune dan peringkat 4 pada tahun 2010. Tentu tidak mengagetkan jika kalian tahu bagaimana perusahaan ini memperlakukan karyawannya. Di Mountain View, California tempat kerja karyawan Google yang disebut “Googlepex” karyawan di berikan gourmet food gratis termasuk sushi dan espresso. Walaupun, akhirnya banyak yang komplain kalau berat badannya naik dari 10-15 pounds. Yah, nggak heran sih. Makan gratis, enak-enak pulak. Saya juga mau, walaupun nanti tambah gendut. Nah untuk mengakomodasi masukan mereka, pihak manajemen menyediakan  gym, video games, on-site child care dan dokter. Google mengijikan karyawannya untuk mengambil 5 bulan 0ff pada saat cuti bersalin dan  full payment untuk mengakomod Nah, perlakuan inilah yang menyebabkan karyawan merasa dihargai oleh perusahaan dan kebutuhan mereka juga terpenuhi. Dan pada akhirnya mereka juga merasa bangga bekerja di tempat yang keren ini daripada lainnya.

Jangan salah, walaupun kelihatanya tempat kerjanya asik, hal ini tidak menyurutkan mereka untuk terus beinovasi dan menghadapi resiko. Mereka malah menitikberatkan pada inovasi. Saat Vice President Google yang  bertanggung jawab pada sistem advertising dan ternyata terjadi kesalahan pada sistem tersebut yang menyebabkan perusahaan merugi jutaan dollar dan dia secara gentle  meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuatnya. Nah Larry Page malah memujinya dan berterima kasih dengan kesalahan yang dibuatnya. Menurutnya jika hal itu tidak terjadi, bisa jadi mereka akan kehilangan lebih besar lagi karena kurang hati-hati. Perusahaan ini mengedepankan inovasi dan perubahan, jika tidak terjadi kesalahan mungkin mereka akan berjalan lebih lamban dan kalah dengan kompetitor lainnya. Selama bukan kesalahan moral tampaknya mereka bisa memaafkan kesalahan yang tidak sengaja.

Bertindak cepat dan berani menghadapi resiko terutama pada saat melakukan kesalahan menjadi kunci mengapa Google berkinerja lebih bagus dan cepat dibanding kompetitor lainnya seperti Microsoft dan Yahoo. Dalam menghadapi tantangan perubahan yang begitu cepat, karyawan Google diperbolehkan menghabiskan 20% dari  jam kerjanya dengan ide kreasi mereka masing-masing. Mau di kantor atau remote dari rumah juga bisa.

Budaya Google juga tercermin dalam setiap pengambilan keputusan . Jadi setiap keputusan diambil oleh tim, bukan individu. Bahkan manajemen perusahaan berada di tangan tiga orang: Larry Page dan  Sergey Brin dan mereka berdua mengangkat Eric Schmidt sebagai CEO. Dengan kata lain, perusahaan ini bukanlah perusahaan yang dalam pengambilan keputusannya oleh Pimpinan senior atau CEO dan di impelementasikan top down. Sistem kerja nya mereka dalam mengatasi masalah atau mengambil keputusan adalah membentuk tim-tim kecil dan mereka memaparkan data dan persuasi rasional.

Disetiap pengambilan keputusan ataupun rapat mereka tidak diperkenankan hanya berbicara ” I Think…” tapi harus berbicara “berdasarkan data”  dan mereka bekerja di ruangan yang terbuka sehingga kesempatan untuk bekerjasama dan berdiskusi lebih banyak daripada bekerja pada kubikle atau sekat-sekat yang seakan-akan membedakan level antara satu orang dengan lainnya.

Perusahaan ini menekankan pentingnya mencari orang terpintar (bukan dukun loh ya) yang mungkin saja mereka akan mendapatkan kandidat-kandidat yang mempunyai ego tinggi dan sulit bekerjasama, namun dengan budaya dan ritme kerja yang ada, akhirnya mereka dipaksa untuk bekerjasama. Karena Google sendiri berasal dari perusahaan kecil yang selalu tumbuh dan berkembang sehingga mereka menekankan nilai-nilai budaya seperti berani menghadapi resiko, cepat dan kerjasama. Maka dari itu dalam proses perekrutan mereka sangat selektif dan hati-hati. Kandidat ini akan diberikan tugas untuk menulis essay “Bagaimana mereka akan berkinerja tinggi di Google”

Dilain pihak, Google juga berpartisipasi pada komunitas-komunitas kemasyarakatan loh. Event yang disebut Googlefest merupakan salah satu kegiatan yang memberikan kesempatan kepada karyawannya dalam community building dan training. Partisipasi dalam kegiatan sosial ini dapat memperkuat hubungan antar karyawan dan masyarakat dan menciptakan suasana kerja yang lebih menyenangkan. Mungkin orang lain akan berpikir kalau Google adalah perusahaan yang mengejar kemewahan dan selalu mengutamakan uang karena pendapatan dan keuntungan yang mereka dapatkan. Tapi nyatanya, profit itu bukanlah hal yang utama. Philosphy Google yaitu memberikan makna kepada karyawan yang telah bekerja di Google ternyata telah mengakibatkan kinerja yang terbaik dari karyawannya.

Jadi jangan hanya fokus pada hal-hal yang bisa dihitung seperti profit atau pendapatan, fokus jugalah kepada bagaimana meningkatkan budaya di organisasi. Budaya organisasi yang bagus dapat meningkatkan produktivitas dan bottom line.

Siapa yang mau kerja di google, ngacung !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s