Tanpa Listrik dan Gadget pun Kami Tetap Hidup Bahagia (Suku Baduy)

Halo semuanya,

Ah sepertinya lama sekali saya tak menulis di blog. Tenggelam bersama tuntutan pekerjaan dan rasa malas yang teramat sangat untuk menulis. Memulai menulis blog lagi rasanya setengah mati…

Apa kabar nasib blog yang sudah satu tahun saya tinggalkan ini, masih ada yang numpang lewatkah atau terlupakan begitu saja. Hahaha, terlupakan oleh orang lain pun ga apa apa. Paling nggak, nulis blog itu salah satu media belajar saya untuk mengingat sesuatu yang suka lupa ini.

Ok, Let’s get started…

Seminggu yang lalu tepatnya tanggal 10 dan 11 Oktober saya ikutan trip ke Baduy yang diadain travelicious cuma bayar Rp. 185 ribu. Yah walaupun ada tambahannya sih, disuruh bawa beras 2 L dan ada tip ke tour leadernya Rp. 15ribu. Seharusnya trip saya ini jalan dua minggu sebelumnya, namun ternyata karena kuota tidak terpenuhi akhirnya diundur deh. Maklum masih budget backpaker.

Terima Kasih  Suku Baduy
Terima Kasih Suku Baduy

Meeting point pertama itu di Stasiun Duri, saya naik kereta dari stasiun Lenteng Agung ke Stasiun Duri cuma 2 ribu. Nyampe sana udah ngumpul tuh wajah-wajah penuh suka cita ke Baduy. Belum tahu aja nanti jalannya gempor. Hahaha.

Habis sarapan, kenalan dan akhirnya kita berangkat ke Stasiun Rangkas Bitung jam 7.30. Seharusnya sih jam 07.15 tapi telat euy. Naik kereta ekonomi ke Rangkasbitung berasa naik kereta api dari Jakarta-Tegal sebelum eranya Pak Jonan. Masih rebutan kursi, masih banyak orang yang duduk di peron, atau di gang-gang tempat duduk. Saya memang dapet tempat duduk tapi jarak tempat duduk saya dengan yang didepan saya sempit, alhasil harus beradu dengkul #ngok

Nah yang lucu lagi, bisa aja modus orang nyari duit. Jadi sebenarnya kan sudah ada peraturan nggak boleh berjualan di area atau gerbong kereta. Tapi bukan orang Indonesia namanya kalau nggak kreatif. Sempet syok waktu lihat ibu-ibu yang bedak sama gincunya tebel nenteng-nenteng plastik item gede. Ujug-ujug dia duduk di sebelah sambil matanya celingukan. Habis itu nawarin gorengan sama lontong. Wakakak, sempet syok tapi juga lucu. Cara orang nyari duit ada aja yaa…

Gorengan-gorengan!!!!
Gorengan-gorengan!!!!

Nyampe Rangkasbitung, akhirnya kami ngumpul sama semua peserta trip. Ada sepasang bapak ibu atau yang biasa kami sebut abah umi, karena kami nggak tahu nama asli mereka siapa. Rata-rata sih seumuran, terus saya yang paling muda #ngarep. Anyway, setelah itu kami dianter ke kendaraan berikutnya yaitu Elf (bener nggak sih nulisnya) sama angkot. Karena kami ada 22 orang, jadi harus ada dua kendaraan. Saya di angkot aja bagian depan, bareng cowok-cowok. Sayang nggak bisa tepe-tepe karena bawa suami #mintaditabok.

Diangkut, diangkut
Diangkut, diangkut

Singkat cerita, (eh nggak bisa disingkat juga sih, dua jam ngobrol ngalor ngidul belum nyampe-nyampe) kami sampai di Terminal Ciboleuger. Yang bikin seru (atau bingung) jalanan dari stasiun Rangkasbitung ke terminal Ciboleuger itu dangdut abis, banyak lobangnya. Asal pegangan kenceng nggak papa sih. Nyampe sana udah jam 12 an siang. Laper, makan nasi sama ikan mas di warung 20 ribu. Nah jam 1 baru deh kita ngumpul lagi depan gerbang menuju peradaban masa lalu. Disitu udah ada guide dari Suku Baduy Dalam beberapa orang yang bakal nganterin kami menuju kampungnya mereka. Awalnya pede aja, kirain jalannya bakal mulus, datar-datar aja dan ternyata jalannya kebanyakan nanjaknya daripada datar ataupun turunannya. Waktu itu kami menempuh waktu 5 jam dari Ciboleuger. Jangan takut buat yang cewek, kalau nggak sanggup bawa ransel atau backpack segambreng karena ada porter dari Suku Baduy yang kuat-kuat. Bukan bermaksud memperkerjakan anak kecil dibawah umur ya, beneran deh. Abisnya yang bawa backpack saya paling anak umur 12 tahun dan itu bukan cuma satu tas, tapi 3 (tiga) luar biasa! Ditambah lasgi setiap kita istirahat ada aja orang-orang yang nawarin minuman, mereka itu ngikutin kita. Mereka tuh tahu kalau bekal air minum kita bakal abis di tengah jalan. Hahaha, takjub bener deh. Jalan tanpa nenteng apapun aja capek, apalagi ini bawa satu ember gede minuman. Perjuangan nyari duit yang luuar biasa!
Paling nggak, mereka nyari duit halal, nggak gengsi, walaupun harus kerja keras dengan peluh yang mengucur. Harusnya kita malu yang mau kerja enak dapet duit banyak apalagi yang doyan korupsi tuh….malu nyampe ubun-ubun!!!

Kuat sekali kau Nak :D
Kuat sekali kau Nak 😀

Back to the story,
Walaupun kami capek tapi beneran deh saya happy. Selain menemui suku yang dulunya cuma ada di buku aja, sepanjang jalan kami ngobrol, kami juga menemukan keindahan alamnya yang masih terjaga, dan kehidupan masyarakatnya yang masih sederhana. Ketika kami memasuki wilayah Baduy luar banyak, kami banyak melihat kehidupan para wanitanya yang mostly menenun, para lelaki berladang, sebagian juga berdagang. Di depan rumah suku Baduy luar, banyak berjejer souvenir atau kain tenun. wanita suku Baduy luar, sudah menggunakan perhiasan emas, bajunya pun lebih bebas dan berwarna. Mereka pun boleh menggunakan jeans, gadget, pokoknya sudha agak modern. Hanya bentuk rumahnya saja yang masih dari bambu dan ijuk sebagai atap.

Lumbung Padi
Lumbung Padi

Beratap jerami
Beratap jerami

Batas antara Baduy luar dan Baduy Dalam adalah jembatan penyeberangan berbahan bambu dan terikat kuat dari ijuk. Sebelum kami memasuki daerah Suku Baduy Dalam, kami puas-puasin deh foto-foto, sebelum itu dilarang. hahaha. Sejam kemudian kami sudah sampai di Suku Baduy Dalam dengan kondisi yang agak berbeda. Satu keluarga biasanya punya 3 rumah, 1 rumah ladang (rumah di ladang tempat mereka bercocok tanam), 1 rumah untuk tempat tinggal dan 1 rumah untuk lumbung padi. Letaknya masing-masing terpisah. Nah waktu kami memasuki kampung Baduy Dalam harus lewat jembatan dan saat saya tengok kanan, eh ternyata banyak wanita mandi disitu, naked :p Kalo yang cowok sih pasti seneng, kalau saya merem-merem. Hihihi

Jembatan Suku Baduy
Jembatan Suku Baduy

Akhirnya kami dititipkan disalah satu rumah, cewek dan cowok dipisah. Sederhana memang, penerangan cuma dari lampu templok, alas tidur cuma tikar (untung saya bawa sleeping bag) menu makanannya pun sederhana cuma sayur asem, ikan asin sama telur goreng, dan nasi. Tapi serius deh, makan itu terasa nikmat entah laper atau memang enak banget. Hahaha.
Habis itu kami ada sesi sharing sama Puun, Puun itu tetuanya Baduy Dalam dan Baduy Luar. Jadi posisi ini secara turun-menurun. Kalau menurut kabar burung kan (entah burung yang mana) kalau Suku Baduy ini adalah sisa-sisa prajurit Padjajaran yang kabur , tapi menurut mereka ini salah. Menurut leluhur mereka, Suku Baduy diturunkan ke Bumi awalnya ada 10 orang, 3 menjadi Baduy dalam dan 7 Baduy luar untuk menjaga alam ini. Mungkin kalau di muslim, kita percaya nabi Adam gitu ya…

Nah dalam perjalanannya, karena mungkin ada orang-orang Baduy Dalam yang tidak kuat dengan arus modernisasi, akhirnya mereka harus dikeluarkan dari Baduy Dalam. Misal, mereka itu tidak boleh merokok, minum-minuman keras, judi, punya gadget, nggak pake alas kaki, pakaian pun cuma warna hitam dan putih. Jika ada yang melakukan pelanggaran mereka akan dihukum di rutan. Lamanya ya tergantung kesalahan yang dilakukan. Mereka pun punya penanggalan sendiri, waktu saya kesana itu tanggal 10-11 oktober 2015. Nah menurut penanggalan mereka saat itu tanggal 26-27 Kasalapan, mereka punya lebaran, tahun baru sendiri, pokoknya mereka semua serba sendiri.

Mereka sederhana tapi bukan berarti mereka terbelakang. Misi mereka satu menjaga bumi. Semoga Suku Baduy tetap ada di bumi

Amanat Buyut
Amanat Buyut

8 thoughts on “Tanpa Listrik dan Gadget pun Kami Tetap Hidup Bahagia (Suku Baduy)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s