Saat “ayah” tak terlihat

Kadang ada beberapa keluarga di belahan bumi ini tidak seberuntung keluarga lain.
Ada yang lengkap, bapak ibu dan anak-anak, rukun damai dan saling menyayangi,
tapi ada beberapa pula yang mungkin tidak lengkap, entah salah satu atau lebih dari anggota keluarga tidak ada.
tentu sedih bukan, saat ada salah satu anggota keluarga tidak lengkap.
tapi ada juga yang lengkap, hanya saja rasa saling menyayangi itu satu persatu luntur, entah kenapa.
Menurut saya ini yang paling menyedihkan.

Ada tapi tidak ada
Tidak ada tapi ada.
Apa enaknya. Hanya pemanis saja

Ibu
Ibu

Yah, memang setiap keluarga punya persoalan masing-masing tapi bukankah akan sangat menyenangkan kalau setiap keluarga itu dapat menghadapinya bersama dalam kasih sayang. Memang tidak semua keluarga seperti itu.
Well, saya mendengar banyak hal tentang keluarga yang sudah tidak harmonis lagi.
Menyedihkan…

Punya ayah, tapi tidak bertingkah laku seperti ayah
Punya suami, tapi tidak bertingkah laku seperti suami
atau mungkin sebaliknya.
Hanya saja dari cerita atau beberapa kasus sepertinya ayah lah yang berperan membentuk karakter sang anak.
Ibu dengan kelembutan hatinya selalu mencintai anak-anaknya dan memperhatikan mereka
(well, mungkin ada beberapa yang tidak)
tapi peran ayah, teladan ayah dan apa yang dilakukan ayahlah dalam rumah tangga yang menentukan apakah dia berhasil menjadi ayah atau tidak atau cuma “ayah-ayahan” sang anak

Ayah dengan keegoisannya merasa yang paling benar dalam satu keluarga
Mentang-mentang dia pimpinan maka dia memaksakan kehendaknya kepada ibu dan anak
Ayah dengan rasa “aku”nya menjadikan alasan mencari uang sebagai alibinya untuk mengurangi porsi kasih sayangnya kepada keluarganya.
Ayah dengan selfishnya menganggap anggota keluarga yang lain lebih rendah dari dia.
Hanya saja para ayah yang seperti ini tidak sadar tindakannya menimbulkan kebencian di diri anak-anaknya.
Tentu saja mereka akan berontak, apalagi jika sang ayah tak memperlakukan ibunya dengan baik.
Bahkan seorang anak yang berandal pun akan berani menentang ayahnya, jika merasa sang ibu tersakiti.
Dia akan membusungkan dadanya maju kedepan untuk melindungi sang ibu yang telah bertahun-tahun merawat dan selau melantunkan doa untuknya.
Hargai apapun yang dilakukan istri dan anak-anakmu para “ayah”
Mereka membangun keluarga, bukan perang

Apakah hal ini banyak terjadi? sayangnya iya, didunia nyata sekarang ini.
Banyak anak yang tidak menemukan figure seorang “ayah” pada ayahnya
yang dia temukan hanya seorang ayah yang bossy, sombong dan kasar
Anak pun menjadi pembenci sang ayah.
Ah, tidak teman. Jangan salahkan sang anak akan hal ini.
Dia hanya meniru apa yang ada dilingkungannya
Dia belajar apa yang diajarkannya secara langsung atau tidak.

Dear para ayah, bisakah kalian kembali ke rumah dengan penuh perhatian dan kelembutan.
Tanggalkan segala rasa kesombongan kalian itu, buang sajalah
dengan membuang itu tidak akan membuat kalian lebih rendah di keluarga.
Percayalah…
Anak dan istri kalian tidak meminta banyak.
Mereka hanya ingin saling menyayangi dan disayangi.

Pun kalaupun tidak bisa, bisakah kalian para “ayah” membiarkan istri dan anak kalian bahagia
Mungkin salah satunya, tinggalkan saja rumah dan jangan ganggu mereka lagi.
Bahagia mereka bukan hanya terletak pada adanya seorang “ayah” yang tak terlihat
Mereka pun bisa bahagia tanpa ayah
Selesai.

Support untuk pada istri ataupun ibu dan anak!

(Gender banget tulisan saya, well karena saya perempuan. Hahaha)

4 thoughts on “Saat “ayah” tak terlihat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s