Belajar dari cerita orang lain

Saya sering sekali menjadi tempat cerita atau curhat teman-teman saya. Yah, nggak apa-apa juga sih, malah seneng-seneng aja. Berarti kan mereka nyaman dengan saya dan mungkin saya adalah pendengar yang baik, walaupun saya  kadang nggak ngasih solusi apa-apa. Cuma manggut-manggut atau geleng-geleng atau mencoba menghibur.

Tapi ya itu, kadang saya mikir ya. Kirain cerita-cerita itu cuma saya dengar di berita-berita, infotainment atau gosip Indonesia. Maksud saya cerita yang aneh-aneh terutama tentang keluarga. Tapi lama kelamaan, karena banyak yang curhat ke saya tentang keluarga, saya jadi mengerti ternyata masalah yang “ruwet” itu memang benar-benar ada. Sampai saya geleng-geleng beneran nggak percaya. Lah wong saya juga baru mulai membangun keluarga loh, yang umurnya masih seumur jagung. Jadi selama ini yang saya anggap “nggak wajar” berubah menjadi “wajar”. Kenapa? ya karena ternyata banyak dan terkadang pelik.

Sesuatu yang saya kira anggap tabu, ternyata berubah menjadi sangat umum. Kadang saya serem sendiri sampai merem-merem dan akhirnya suka tanya sendiri dalam hati, kok bisa ya atau oo ternyata ada ya. Hemm, hanya bisa berdoa cukuplah saya tahu cerita yang jelek itu dan jadi tempat curhat, tapi jangan sampai saya mengalaminya. Belajar dari cerita dan kesalahan orang lain kalau bisa.  Memang sih pasti setiap keluarga punya masalah masing-masing dengan takaran yang berbeda.

Pesan saya untuk para wanita: Do what makes you happy dan damai aja deh. Maksudnya gini loh, kadang kita udah berkorban ini itu sampai berkeringat atau berdarah-darah , tapi kalau nggak dihargai, disepelekan atau mendapat bentuk kekerasan lainnya (inget kekerasan bukan hanya fisik loh ya, psikis juga) yo wes tinggalkan. Jangan ditahan-tahan tapi nyiksa diri sendiri dan akhirnya bikin tambah parah. Laki-laki itu komitmennya yang dipegang, jangan percaya kalo cuma tong kosong doank tapi nggak ada buktinya, mending suruh ke laut aja. Hehehe

Tapi jangan lupa untuk keep on track ya, maksudnya gini. Okeh, menurut kita untuk ngilangin stress rumah tangga malah minum-minum atau doing stupid. Ya ga gitu juga, emang sih happy  buat short-term tapi impact long tem nya ya malah bakal memperburuk diri sendiri. Inget loh, masih ada kata-kata “damai”.  Setahu saya pada dasarnya manusia kan tahu mana yang baik dan yang buruk kan. Jadi kalau melakukan hal yang buruk pasti hatinya nggak pernah damai. Trust me 😀

Go ladies… kalian kuat loh.

Kalau ditanya kenapa saya ngebelanya perempuan doank. Pertama, yang curhat itu rata-rata perempuan bukan bapak-bapak atau kakek-kakek, tapi saya mencoba netral juga memandang masalah kok *halah* . Kedua: secara fisik wanita itu lemah dari laki-laki, kalau laki-lakinya nginjek-nginjek wanita ya harusnya dia malu sama t*t*tnya. Dia sudah diciptakan dengan kekuatan fisik kuat gitu kok memperdaya wanita. Ah kalau itu sih laki-laki bencong. Laki-laki itu sebagai pelindung bukan sebaliknya. Kayanya itu aja deh alasannya, Nanti kalau ada lagi saya tambahin deh. Hehehe.

Ah  tulisan ini gender banget yah. akh biarin deh :p

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s