Mistery of Megalithikum Sites in Lore Lindu National Park

Andaikan setiap pelajaran sejarah ada study tournya, saya rasa nilai pelajaran saya akan selalu tinggi. Sayangnya masa-masa itu udah lewat. Hehehe😀

Beneran loh, belajar sejarah dari buku itu kayak belajar peta buta. Kita cuma bisa meraba-raba dan membayangkan. Yah, walaupun katanya “Buku itu jendela duni itu ” itu bener sih, tapi saya rasa hanya awal saja. Yang paling okenya ya harus praktek, karena menurut penelitian kalau sudah pernah praktek itu ilmunya akan nempel lebih lama (lem kali nempel)

Here I am^^
Here I am^^

Okeh, sebelum saya ngelantur nggak jelas jadi mari saya jelaskan kenapa saya cerita tentang sejarah. Masih inget nggak sih tentang dolmen, menhir,kubur batu, punden perundak, arca dan teman-temannya. Mungkin kita tahunya batu-batuan seperti itu cuma ada di Candi Prambanan atau Borobudur. Berarti kamu nggak gaul kalau tahunya arca cuma di candi-candi itu. Atau pernah denger tentang Megalithikum. Coba inget-inget lagi kalau nggak salah itu pelajaran SMP deh. Coba tunjuk tangannya yang masih inget apa itu Megalithikum. Hayooo… ada yang masih inget. Ckckck, ternyata udah pada lupa yak. Okey saya akan jelasin.

Contoh nya ini loh
Contoh nya ini loh

Intinya sih Megalithikum itu kebudayaan yang menghasilkan bangunan-bangunan dari batu besar, karena banyak peninggalan yang terbut dari batu-batu besar. Sulawesi Tengah juga punya loh, menyebar di Taman Nasional Lore Lindu.
Jadi ceritanya saya dan teman-teman dari Plesiran Palu study tour ke sana. Ada beberapa tujuan sih sebenarnya diantaranya Danau Tambing, Doda, Pokekea dan Bariri. Kami nggak sampai Bada soalnya jarak dan waktu jualah yang memisahkan kita.

Kami menggunakan 2 mobil karena jalan berdua belas. Ada yang pakai motor, tapi kalau saran saya sih lebih safety pakai mobil. Kenapa, karena jalanannya yang dangdut dan cuaca yang hujan terus sepanjang hari. Mungkin karena ini baru pertama kali ke daerah Napu, harus berkali-kali tanya dan nyasar. Hehehe. Tapi kalau ramean seru deh! Asli! Apalagi ada Om Roy sama Evelyn. Dua orang ini bikin kami ketawa ngakak sakit perut terus.
Saya nggak usah cerita tentang Danau Tambing lagi yah. Bisa dibaca disini
Jejeng, akhirnya kami sampai di Doda. Doda ini desa terdekat tempat kita bisa menginap. Cuma ada dua penginapan disini. Penginapan Berkat dan Rizki. Kami pilih yang Berkat. Permalam cuma 100 ribu kok, dan kamarnya lumayan gede. Untung jumlah kami seimbang, cewek 6 orang, cowok juga 6 orang. Hanya beda-beda ukuran body aja. Hehehe. Kalau mau extra bed bayar 25 ribu/bed. Silahkan umple-umpelan disitu😀

Satu yang saya selalu jaga kalau ditempat orang. Kita tuh harus behave. Semoga ini bisa jadi pelajaran buat kita semua. Sebetulnya saya orangnya nggak terlalu percaya sama yang begituan, tapi saya percaya satu hal. Kita bukan satu-satunya mahluk hidup yang hidup di bumi. Ada mahluk lainnya.

Jump to the past
Jump to the past

Saat kami istirahat di Wuasa daerah sebelum Doda di warung Kopi kami nimbrung di rumah warga, apalagi waktu itu saat gerimis mengundang (itu judul lagu Tikul!) teman-teman emang ribut sekali. Yah, wajar sih 12 orang abstrak dikumpulin jadi satu pasti ributnya nggak ketulungan. Hanya saja mungkin ada yang tidak berkenan dengan tindakan kita. Kita yang nggak pernah tahu kan. Jadi tolong behave yah, agar selamat sampai tujuan.

Doda itu seperti desa yang damai. Udaranya yang sejuk, alamnya yang indah, manusianya yang ramah, aura positif keluar dari desa ini. Perasaan galau, lara, gundah gulana hilang saat menginjakkan kaki didesa ini (Okeh, saya mulai lebay lagi). Ditambah lagi desa ini ternyata penghasil beras. Menurut saya desa ini pantas diberi nama desa suka senyum. Betul loh, terkadang saat kita ditempat lain, kita yang harus menyapa duluan. Tapi disini sama sekali berbeda. Mereka selalu menyapa dan menebar senyum duluan. Entah itu anak kecil sampai orang dewasa. Kearifan masyarakat disini sudah tingkat tinggi. Masjid dan gereja berdampingan, manusianyapun hidup damai berdampingan.

Doda Desa Beras
Doda Desa Beras
Rumah adat di Doda
Rumah adat di Doda

Trip yang sebenarnya pun akhirnya dimulai. Kami harus ke Desa Pokekea, tidak terlalu jauh dari Doda. Saya benar-benar tidak sabar melihat patung-patung itu loh. Serius. Sudah lama sekali saya ingin melihat ini. Biasanya hanya lihat di brosur-brosur saja dan sekarang saya akan melihat bahkan bisa memegang. Asal nggak dibawa pulang yah. Hehehe.
So, Here we are. Kompleks Megalithikum Pokekea. Mata saya tertuju dengan batu besar depan saya. Bentuknya seperti sumur tapi diatas tanah dengan ukiran-ukiran unik yang saya tidak tahu artinya apa. Batu ini namanya Kalamba. Salah satu sumber dari internet batu ini digunakan untuk tempat mandi seorang putri. Tapi kebetulan saat itu ada arkeolog yang didatangkan dari Borobudur dan kami sempat berbincang dan ternyata oh ternyata Kalamba ini digunakan untuk prosesi mayat yang kedua. Awalnya mayat ditaruh dalam sebuah wadah, setelah membusuk dan yang tersisa hanya tulang, maka dilaksanakanlah prosesi yang kedua yaitu pembersihan sekaligus pembakaran tulang-belulang mayat tersebut. Hiyy, serem yah. Nggak kebayang aja dulu gimana. Mayat yang udah jadi tulang-belulang dioprek-oprek lagi.

JEjeng :D
JEjeng😀

4r

5q

Kalamba ini ternyata.... *hiyy*
Kalamba ini ternyata…. *hiyy*

Menurut Pak Gunawan sih, ada garis keturunan yang terputus disini. Maksudnya sampai sekarang belum diketahui siapa yang membuat semua peninggalan ini. Karena sepanjang penelitian yang dilakukan didesa sekitar itu tidak ada kegiatan adat yang terindikasi melakukan kegiatan seperti itu. Hemm, jangan-jangan alien lagi *ups.

Menurut beliau kegiatan pencucian tulang bisa membahayakan manusia yang masih hidup loh. ternyata dalam tulang busuk, terdapat banyak sekali bakteri. Jadi kalau tergores sedikit saja lukanya bisa menjalar keseluruh tubuh (kayak tetanus ya,,,) dan menular. OMG, serem amat ya boo!!! Jadi menurut beliau (catet yak, menurut beliau bukan saya!) mungkin garis keturunan yang terputus itu disebabkan oleh terjangkitnya penduduk disitu oleh penyakit yang menular tadi. Masih terindikasi sih, walaupun belum terbukti secara ilmiah. Amit-amit. #ketuktanahtigakali#

Ada mitos juga loh yang terkenal disini. Ada yang namanya arca setia. Katanya sih arca ini setia nungguin pasangannya. Iya, dia cuma sendirian disini. Jadi ini namanya arca jomblo kali yak dan ada lagi namanya couple stones, katanya sih kalau foto disini sama pasangan, pasti bakal everlasting love gitu. ciee… ciee.. mau donk di foto sama Brad Pitt.

Arca yang setia :p
Arca yang setia :p

Couple Stone
Couple Stone

Terus ada kegiatan yang baru pertama kali yang saya lihat seumur hidup. Mau tahu, hayoo mau tahu aja apa mau tahu banget. Iya deh, dikasih tau, Ini pertama kalinya saya lihat manusia nyuci batu. Maksudnya patungnya dicuci. Ngapain coba patung dicuci, disikat harus pakai aturan pula. Nyikatnya harus muter kekiri atau kekanan secara hati-hati. Ada cairan kimianya pula. Gunanya itu untuk menghilangkan jamur. Jadi ternyata para bapak-bapak yang datang dari Borobudur itu didatangkan kesitu buat ngajarin gimana caranya ngilangin jamur. Mau tahu yang lebih ajib lagi. Cairan kimianya khusus didatangkan dari Jepang loh. Saya lupa apa namanya sih, pokoknya susah, maklum nilai kimia saya jelek. Hehehe.

Sikat terus bang...
Sikat terus bang…

Patung-patung ini kalau udah jamuran nilai historisnya akan hilang. Kenapa… karena jamur-jamur ini akan meratakan ukiran-ukiran yang ada dipatung. Kalau ukirannya hilang, patung-patung ini nggak beda jauh sama patung biasa donk. Satu fakta lagi yang terungkap disini yang saya dapat dari sini. Ikuti terus Tika Investigasi.

Ternyata oh ternyata patung-patung ini ada yang pernah dicuri sama penduduk sekitar. Gila!!!. Patung aja dicuri yak, tapi ini fakta loh dan ada yang beli. Saya kurang tahu tentang dunia kolektor-kolektor begitu sih. Tapi ngapain beli patung mahal-mahal sampai 200 juta cuma buat jadi pajangan doank. Dibawa kemana-mana juga nggak bisa. Lebih bagus ditempat aslinya, nilai historiknya bakal muncul apalagi menyatu dengan alamnya. Rasanya beda loh. Dear para kolektor dan para pencuri benda sejarah sadarlah kalian. Sejarah itu identitas bangsa, bukan untuk diperjual belikan. Kalau nggak ada sejarah kalian juga nggak ada (ceritanya saya esmosi…)

Ternyata tugas penjaga situs ini berat juga yah,semangat ya bapak-bapak penjaga situs! Oh iya, ada lagi nih info tambahannya. Kenapa patung-patung disini rata-rata menghadap gunung hayoo!! Ada yang bisa jawab? Menurut beliau sih, karena masyarakat dulu percaya tempat bersemayamnya para leluhur atau dewa-dewa itu menghadap gunung. Gitu! Malah dulu-dulu masih sering ditemukan sesajen di patung-patung ini, mungkin perwujudan animisme kali yak. Who knows….hmm

Pokekea done! Next trip is Bariri

Bariri itu masih satu wilayah sama Pokekea sekitar satu jam Pokekea. Memang cuma ada satu arca disini. Namanya Arca Tadulakko. Menurut sahibul hikayat, pada suatu masa yang lalu, ada panglima perang yang bernama Tadulako disini dan akhirnya diabadikan jadi patung deh. Arcanya Cuma satu diantara hamparan luas. Walaupun begitu, pemandangannya eksotik banget, seeksotik sayah :p

Arca Tadulako
Arca Tadulako

Menurut para arkeolog usia patung ini sekitar 2200 tahun yang lalu. Widih itu saya masih dalam bentuk apa yak, terpikir dibikin aja mungkin belum. Hehehe.

Nah seperti yang saya bilang tadi patung-patung disini masih jadi misteri. Coba ada lorong waktu dan pintu kemana saja doraemon. *Mulai deh Tikul ngayal*

dengan kekuatan bulan akan menghukummu :p
dengan kekuatan bulan akan menghukummu :p

Siapa yang tertarik jadi arkeolog dan menemukan jawabannya? Xixixi.

NB: Oleh-oleh dari sana, jerawat tumbuh dengan suburnya dan yang paling tidak akan saya lupakan, bibir saya bukannya dicium sama Brad Pitt atau Leonardo Dicaprio tapi malah kura-kura di penginapan Berkat. Huhuhu

10 thoughts on “Mistery of Megalithikum Sites in Lore Lindu National Park

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s