Kapan Nikah?

Kenapa saya bikin tulisan ini, karena saya sekarang agak terusik dan terganggu dengan pertanyaan ini.
Terutama pas pulang kampung. Capek deh asli!
Kalo diem yang nanya suka ngelunjak, diomongin macem-macem. Giliran dijawab eh, kayaknya semua jawaban saya adalah salah. Haishhh >_<

"What's wrong with being single?"

Okey mungkin umur saya sudah cukup untuk menikah. Mungkin sudah cukup dianggap dewasa. Sebenarnya dari pihak keluarga nggak gitu-gitu amat deh. Keluarga saya demokratis walaupun terkadang abstrak. Tapi lingkungan ini yang bikin saya sebel dan terkadang mama saya juga jadi terpengaruh dan itu bikin saya malas kalau keluar rumah, apalagi kalau disuruh nemenin mama. Kalau bisa mendingan saya pegangan tiang listrik

Haloww, I'm still young gitu. I'm just 25 years old. I have many dreams to reach loh!

kayaknya yang lebih tua dari saya dan belum menikah itu banyak deh. Not only me dan mereka enjoy ajah. Sayang saya ga bisa ga bersosialisasikan apalagi dalam judul "Mudik Lebaran" Dari dulu lulus kuliah sih pasti udah ditanyain, tapi saya masih bisa mengeles dengan segudang alasan. Tapi kayaknya orang-orang itu udah pinter banget muterin alasan-alasan saya. Haisshhh

Andaikan bisa, kemaren mending saya balik lagi ke Palu. Sayang tiket PP udah dipesen semua. Jadi selama seminggu, setiap hari nggak lain dan nggak bukan topiknya cuma satu "kapan nikah?" #ngegaruk aspal

Setiap orang punya pertimbangan sendiri saat memutuskan untuk menikah. Begitupun saya. Menikah itu bukan seperti beli baju kalau yang nggak suka boleh dibuang. Itu keputusan seumur hidup dan sekali saja salah berpijak, silahkan tercebur dalam jurang penistaan.

Seseorang belum menikah bisa karena banyak hal.

Pertama: Pasangan. Mungkin karena belum ada yang cocok, kan seperti yang saya bilang nggak segampang beli baju. Atau giliran udah ada yang cocok tapi belum siap. Walaupun untuk mengartikan kata-kata siap ini saya sendiri agak bingung, karena sikap kesiapan setiap orang itu beda-beda.

Kedua: Finansial. Nggak bisa dipungkiri duit itu ngaruh banget. Mau dikasih makan apa keluarga. Cinta. Ini kan bukan jaman negeri dongeng. Jadi saya sih berpikir logis saja, kalo finansial belum cukup dan masih tergantung sama ortu, mending jangan dulu deh. Ngasih makan buat diri sendiri aja belum mampu, berani-beraninya mau ngawinin anak orang.

Ketiga: Restu. Hahaha pengen ngakak kalo inget yang satu ini. Tapi yah nggak bisa dipungkiri "restu" itu penting banget. Banyak kan kasus, bisa gagal gara-gara restu. Orang tua adalah orang yang merawat kita dari lahir sampe segede ini, mereka juga nggak sembarangan pastinya pengen selalu ngasih yang terbaik. Lah pacar, ketemu aja waktu udah segede bagong, namanya pacaran pastinya yang enak-enak mulu kalau ngomong, nggak tahu nanti kenyataannya gimana deh. Makanya pasti setiap orang tua punya kriteria sendiri buat pasangan anaknya itu wajar sih. Hanya ingin memastikan anaknya akan baik-baik saja dan bahagia setelah diserahkan ke pihak lain. Soalnya mau nggak mau, setelah menikah mereka tidak punya hak penuh lagi, karena sudah jadi keluarga baru. Yah walaupun ada yang nekat juga. Hidup kan pilihan.
"up To u Bro"
Sebetulnya kata-kata hidup adalah pilihan adalah kalimat pamungkas dan setelah itu tidak akan ada lagi pembicaraan lagi jadi sebisa mungkin hindari *eh.

Keempat: Hati. Pernah dengar kan ada yang sudah mendekati hari "H" eh malah batal menikah atau ada juga pas di meja altar eh gagal menikah. Everything possible. Kenapa bisa? Menurut saya itu karena hati. Restu orang tua sudah OK, finansial OK, orangnya pun udah OK tapi kalau ternyata hati belum yakin, belum pas walaupun semua sudah Ok bisa juga terjadi kan. Tuhan yang bisa membolak-balikan hati manusia.

Kelima: Trauma. Saya tau beberapa orang yang sudah siap segalanya untuk menikah, tapi selalu dia urungkan niatnya karena trauma. Trauma akan kehidupan keluargnya sendiri yang tidak bahagia, mungkin dulunya begitu. Jadi, menurutnya buat apa menikah jika tidak bahagia dan single itu lebih happy tanpa ikatan atau apapun. Who knows, tapi yang begitu memang adanya tapi saya harus bilang sekali lagi, hidup itu pilihan bro:D

Simple saya sih, saat seseorang sudah siap lahir batin akan menikah, pasti dia akan menikah. Kalau belum mungkin memang banyak pertimbangan yang ada dihatinya. Apalagi menikah itu untuk menggenapkan iman karena itu adalah Sunah Rasul.
Hanya saja untuk prosesnya kita tak pernah tahu, akan datang cepat atau lambat.

4 thoughts on “Kapan Nikah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s