Dari Seorang Pengangkut Pasir dan Batu

Seharusnya saya bersyukur bukannya mengeluh dan mengeluh.
Seharusnya saya berterima kasih bukannya menggerutu dan mencaci.
Seharusnya….

Sore itu saya dan Mister Robi maen ke Sirtu Kalukubula.
Sebetulnya bukan maen secara harfiah sih, tapi bekerja sambil bermain,
karena bermain adalah bagian dari pekerjaan saya.

Pasti banyak yang bertanya apa itu sirtu.
Sirtu itu Pasir dan Batu.
Jadi tempat maen saya saat itu adalah di pinggir kali yang dipenuhi
para pengangkut pasir dan batu.

Kenapa bisa sampai maen kesitu, tolong jangan tanya lagi
karena ini memang bagian dari pekerjaan.

Saat memarkirkan mobil pemandangan yang pertama kali terlihat adalah
Seorang bapak yang dengan khusyuk sedang sholat dipinggir sungai
Dengan baju seadanya, sajadah seadanya tapi iman dan takwa yang luar biasa.

Subhanallah
Subhanallah
0:)
0:)
0:)
0:)

Saya iri dan sekaligus terharu. Dada ini rasanya damai melihat sang Bapak.
Hanya suara air sungai dan serpihan pasir yang tersaruk-saruk yang memenuhi sore ini.
Saya cuma bisa terdiam.

Setelah selesai sholat, saya melihatnya berganti pakaian. disitu juga.
Dilepasnya sarung, dilepasnya baju diganti dengan semua yang biasa beliau gunakan itu menggaruk pasir dari sungai.

Bersyukurkah ia dengan pekerjaan seperti itu? Yang terkadang harus berendam didalam sungai berjam-jam sampai tubuh rentanya mungkin tak menghiraukan lagi yang namanya penyakit. Ya penyakit dari air sungai yang kotor, atau penyakit karena kelamaan diair.

Pak Darwis namanya, lelaki santun dan penuh rasa syukur.
Dia bilang hidup itu bagaimanapun bentuknya harus disyukuri, betapa susah dan berat yang dirasa tetap harus disyukuri. Tuhan memberikan kesempatan hidup didunia ini saja sudah harus disyukuri.

Jadi apapun yangterjadi hidup itu berjuang dan bersyukur.

aih pak, salut dah. Jujur sampai detik ini saya masih suka ngeluh.
Ngerasa perjuangan yang saya lakukan udah polll banget.
Padahal seujung kuku jari pun mungkin nggak ada.

Saat sakit seperti ini, sakau dan galau.
Mengingat pak Darwis, saya lebih semangat lagi.
Walaupun cuma pencari pasir dan batu di Kalukubula.
Beliau tetap berjuang diusianya yang renta dan merasa cukup dengan kehidupannya sekarang.

Tetap berjuang dan bersyukur:D

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s