Sepatu Dahlan: Hidup, bagi orang miskin harus dijalani apa adanya :)

Saya baru baca novel yang sangat inspiratif. Judulnya Sepatu Dahlan yang memang sumber inspirasinya adalah Bapak Dahlan Iskan Menteri BUMN. Saya sangat menyukai beliau, bukan karena saya bekerja di salah satu BUMN juga yah. Tapi secara pribadi saya pun sangat menyukainya. Dia memberi gebrakan-gebrakan nyata disemua lini BUMN, walaupun terkadang kontrofersial tapi tak apa semua punya tanggapan masing-masing terserah mereka.

Saya seperti menemukan seseorang yang benar-benar bisa menjadi panutan masyarakat, bukan hanya sekedar janji-janji manis. Tapi beliau sungguh membuktikannya.Membangkitkan semangat bangsa Indonesia!Yang mau protes silahkan, kan setiap orang punya idola masing-masing dan idola saya saat ini Pak Dahlan Iskan. Hehehe.

Back to topic. Buku Sepatu Dahlan ini menceritakan kehidupan Pak Dahlan pada saat beliau masih kecil. Dua cita-citanya yaitu mempunyai sepatu dan sepeda. Mungkin untuk anak jaman sekarang adalah permintaan yang mudah tapi tidak untuk Dahlan Kecil, untuk makan sehari-hari saja beliau kekurangan.

Novel Sepatu Dahlan
Novel Sepatu Dahlan

Dahlan kecil tinggal bersama kedua orangtuanya dan satu adik lelakinya yang bernama Zain. Kedua kakak perempuannya sudah hidup merantau untuk mencari ilmu.Ibunya bekerja sebagai pembatik dan ayahnya adalah buruh tani. Ada beberapa scene yang saya suka. Yang pertama adalah pada saat Dahlan Kecil menyukai seorang gadis kecil pada saat SMP. Pada saat itu Dahlan terjatuh dari sepeda pinjaman dan jatuhnya tepat sekali di selokan. Nama gadis itu Aisha. Sesaat melihat Aisha walaupun disertai rasa malu Dahlan kecil sungguh bahagia. Mau tahu apa yang diucapkannya.

“Aku tresno karo kowe, Selokan!” (Aku suka kamu, selokan!)Bukannya Aisha yang disebut malah selokan 😀 Seketika itu juga saya tertawa terpingkal-pingkal.

Banyak kisah sedih disini. Dahlan kecil sangat akrab sekali dengan yang namanya rasa lapar. Perut merasa melilit-lilit dan perih sampai-sampai harus diikat dengan sarung. Jikapun ada makanan yang paling sering adalah makan tiwul. Pernah suatu ketika karena tidak ada makanan sama sekali sedangkan Ibu beliau sakit keras di rumah sakit, dan tentu saja sang bapak menunggui. Dahlan sudah tidak mempunyai makanan apa-apa lagi di rumah. Adiknya, Zain sudah kelaparan dan akhirnya Dahlan kecil terpaksa mencuri tebu. Ketauan, akhirnya Dahlan kecil harus menanggung akibatnya. Dahlan kecil harus “Mondok” nguli di kebun tebu tapi nggak dapat bayaran selama beberapa waktu.

Banyak pesan moral yang disampaikan dibuku ini antara lain ajaran mbak Sofwati kakak Dahlan.
“Ojo wedi mlarat”. Yang penting tetep jujur!”
(Jangan takut miskin) Jaman sekarang susah kan nyari yang begini. Mau nyolong kek, mau maling kek yang penting sugih (kaya) boro-boro ingat itu jujur apa nggak.

Oh iya, Dahlan kecil ini dulu jadi jagoan voli loh, sampai-sampai jadi kaptennya. Walaupun beliau tidak punya sepatu tapi semangatnya tak gentar. “Nyeker” tetep dilakoni karena dia mencintai olahraga itu. Pernah suatu ketika saat final ada peraturan yang sengaja dibuat-buat agar tim voli Dahlan kecil kalah sebelum bertanding yaitu pemainnya harus memakai sepatu. Pusingnya Dahlan pada waktu itu, sampai-sampai harus mencuri uang ayahnya untung dia segera tersadar. Pertolongan akhirnya datang. Teman-temannya membawa sepatu walaupun ukurannya kekecilan dan kakinya memar-memar pada saat dipakai itu pun harus bergantian dengan yang lain. Tapi dengan semangat dan daya juang tinggi akhirnya mereka menang juga.

Salut dengan perjuangan Dahlan Iskan kecil begitu juga seharusnya manusia. Jujur dalam berjuang, tekun dan semangat dalam menggapai cita-cita. Sehingga tidak mudah berputus asa dan loyo. Menjadi orang miskin itu memang sulit tapi lebih sulit lagi jika tak merubah takdir sendiri. Pelajaran berharga untuk saya juga untuk tidak mudah menyerah dengan keadaan.

Novel ini merupakan novel trilogi. Saya masih menantikan novel selanjutnya. Tidak mungkin saya menceritakan semua isinya. Nggak seru kalo nggak baca sendiri, pokoknya buku ini wajib dibaca! (ups, promosi deh…)

Oh iya penulisnya adalah Khrisna Pabichara. Bung Khrisna ini sampai mengadakan riset langsung loh. Memang sih beberapa ada yang fiktif tapi tak mengurangi “rasa” dari semangatnya Pak Dahlan Iskan yang terpancar dari novel ini.

Pak Dahlan, aku padamu…. ! ^^ hehehe

2 thoughts on “Sepatu Dahlan: Hidup, bagi orang miskin harus dijalani apa adanya :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s