Bukankah kita ingin menjadi Habibie dan Ainun

Pertanyaan ini dilontarkan seorang teman lelaki saya kepada teman wanita saya yang lain. Teman yang ingin mengetahui kesungguhan hati teman wanitanya tersebut. Saya cuma bisa menyimak dan ikut terbawa arus pertanyaan itu. Walaupun saya salah juga, kenapa juga saya bisa ditengah lingkaran pembicaraan serius mereka.

“Saat aku sudah tidak mampu lagi mencari uang, saat aku tidak bisa mencukupi kebutuhan, saat hanya hanya sanggup membeli satu ikat sayur dan tidak mampu membeli beras atau bahkan aku tidak mempunyai apa-apa sama sekali. Tidak bisa dijadikan sandaran, dan tidak bisa diharapkan lagi bagaimana?”

Awalnya sang wanita hanya memandang bingung teman lelakinya, dan sambil tertawa dia bilang itu tidak mungkin. Saya pun berpikir demikian, karena kami sama-sama tahu sang lelaki adalah seorang pekerja keras, visi yang jelas dan mempunyai cita-cita yang tinggi. Dia masih muda dan kuat pasti tidak akan mengalami hal seperti itu. Tapi lelaki itu meyakinkan kami bahwa semua hal bisa terjadi termasuk yang hal terburuk sekalipun.

Kami terdiam dan saya perlahan-lahan mundur perlahan, karena tidak sopan mendengar pembicaraan pribadi, walaupun masih bisa terdengar oleh saya. Hehehe.

Awalnya sang wanita hanya tertawa namun tampaknya dia sekarang berpikir dalam sekali, Saya bisa lihat itu dari kerut di dahinya, sambil terdiam lama. Mereka berdua benar-benar hening sekarang bahwa mungkin benar hal-hal buruk bisa saja terjadi.

“Kita akan selalu bersama, apapun yang terjadi.” Jawab sang wanita, simple, tegas dan jelas.

“Apakah kamu yakin?”Tanya sang lelaki.

“Yakin, bukankah kita ingin menjadi seperti Ibu Ainun dan Habibie?”Tanya sang wanita, dan sang lelakipun mengangguk mantap

“Kau ingat kata-kata ini: Terima kasih Allah, Engkau telah menjadikan Ainun dan saya manunggal jiwa, roh, batin, dan hati nurani. Kami melekat pada diri kami sepanjang masa di manapun kami berada… ”

“Tentu saja.” Sambil memejamkan mata sang wanita berkata lagi
“Ainun tercipta untuk saya, dan saya tercipta untuk Ainun.” Seketika itu dunia serasa berhenti berputar dan hening.
“Begitupun kita sama seperti Habibie dan Ainun diciptakan karena saling melengkapi. Kita mungkin bukan seorang pembesar seperti Ainun yang seorang dokter dan Habibie yang seorang presiden atau pembuat pesawat terbang, kita cuma orang biasa yang mempunyai cinta sederhana. Cinta yang ingin saling melengkapi satu sama lain. Cinta yang ingin saling memberi kebahagiaan dan kebersamaan untuk terpatri selamanya. Aku memang tak pandai merangkai kata mutiara seperti penyair itu, namun yang jelas aku mencintaimu apa adanya dirimu. Segala rintangan dan halangan yang mungkin akan menghadang, aku yakin bisa kita lewati bersama asal kepercayaan akan cinta itu juga tidak luntur. Itu saja yang kupercaya, tidak ada yang lain.

Wew, saya cuma bisa tarik napas panjang mendengar pembicaraan mereka berdua. Semoga benar-benar bisa selamanya seperti Ainun dan Habibie sebagai lambang kesetiaan dan cinta sejati.

“Ainun dan saya bernaung di bawah cinta milik-Mu ini dipatri menjadi MANUNGGAL sepanjang masa. Hanya dengan tatapan mata saja tanpa berbicara sering dapat berkomunikasi langsung dan mengerti isi hati dan kehendak kami.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s