Taman Bungkul Surabaya n Sego Pedes

Tulisan ini harusnya sudah lama saya post kan, tapi maklum orang sibuk jadi baru sempet deh #wadesig#

Perjalanan ke Surabaya sebenernya cuma beberapa jam saja dan itupun sudah hampir tengah malam. Untung saya mempunyai sahabat-sahabat yang baek hati, rajin menabung dan tidak sombong. Falak dan Arie, mereka adalah teman-teman dari SMA dan jarang sekali kami ketemu. Tiba di Bandara Juanda saja sudah jam 10 malam dan saya janjian ketemu mereka di Sutos. Saya baru tahu loh ada Sutos, memang mirip-mirip kayak Chitos sih tempat maen dulu waktu masih nyari makan di Jakarta.

Saya kangen kota ini, walaupun agak berbeda dengan kangennya saya akan Bogor atau Slawi tempat kelahiran saya dan sebabnya apa sampai sekarang saya nggak tahu. Jam 11an malem, kami bertiga ngumpul, ngobrol ngalor ngidul mengenang masa-masa SMA. Sebenernya saya nyangkut di Surabaya karena nunggu penerbangan yang berangkat jam 5 subuh daripada pesen hotel mending ngumpul sama temen-temen, walaupun dipaksain nggak tidur. Untung itu malem Sabtu jadi besoknya libur dan mereka juga. Hehehe.

Tolong aku dimakan hiu!
Tolong aku dimakan hiu!

Mumpung di Surabaya saya nggak rela kalo nggak jalan-jalan. Apalagi saya belum punya foto Ikan Hiu sama Buaya itu. Alhasil jam 12 an lebih kami ke Kebun Binatang Surabaya dan foto-foto disitu dah. Setelah bosan dengan berbagai gaya dan waktu baru menunjukkan jam 1 malem akhirnya kita memutuskan ke Taman Bungkul. Tempat nongkrongnya anak-anak Surabaya.

Taman Bungkul ^^
Taman Bungkul ^^
Ayo kita maen bola ditengah malem buta :D
Ayo kita maen bola ditengah malem buta 😀
Kelap kelip lampu dikota *jreng*
Kelap kelip lampu dikota *jreng*

Saya heran saat itu menjelang pagi yak tapi orang masih banyak aja. Ada yang maen bola, ada yang pijet, ada yang nongkrong doank, ato yang pacaran *ups dan yang lebih heran lagi anak-anak kecil dari balita aja masih banyak berkeliaran disana.”Mboke karo Bapake” nggak nyari apa ya. Terus ternyata dan ternyata Taman ini adalah kompleks pemakaman dulunya. Taman Bungkul sendiri sebelumnya dibangun karena adanya makam tokoh sejarah seperti Ratu Kamboja, Ratu Campa, Tumenggung Jayengrono, dan Ki Ageng Supo atau yang lebih dikenal dengan mbah Bungkul dan akhirnya saya tahu Taman Bungkul adalah jantungnya kota Surabaya yang menawarkan nuansa malam yang berbeda. Murah meriah, berada persis ditengah kota, dan budayanya masih terjaga. Bayangkan saja, pemakaman diubah menjadi sebuah taman yang indah dan terjaga itu tak mudah, tapi Surabaya membuktikannya.

Next, adalah wisata kuliner. Siapa coba yang mau makan jam 3 pagi, kecuali kalo sahur. Tapi disini (tapi lupa nama daerahnya) ada yang namanya sego pedes. Sekilas sih biasa, rame banget. Makananya sederhana, cuma pake telor dadar, ato tempe, tahu dan yang lebih terpenting lagi sambelnya yang nonjok diperut. Dilidah sih ga seberapa, tapi setelah beberapa menit berselang…errrr jangan ditanya sensasinya. Mungkin perut saya kaget yah, jam 3 pagi dikasih makan, pedes pula. Berkesan, sangat berkesan.

Saya suka kota ini, walaupun jarang ke Surabaya atau sekedar transit ditambah ketemu temen-temen lama. Bagaikan nostalgia #sambil nyanyi kemesraan *jreng*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s