Memandang Bulan

Setiap malam menjelang saat matahari terbenam Iko sudah siap terduduk di atas bukit. Walaupun sendiri dia tak merasa sepi karena cukup baginya ada kunang-kunang dan tonggeret yang menemaninya.

Yuki sahabatnya mencarinya, mencari sosok sahabatnya diatas bukit sana, terhenyak dia sementara memandang siluet itu. Indah sekali, dikala remang rembulan menerangi dengan siluet tubuh Iko. Dia selalu bertanya-tanya apa yang Iko cari sebenarnya.

“Apa yang kau cari disini Iko?” Tanya Yuki.

Iko hanya mengacungkan jari telunjuknya keatas dan tersenyum tanpa bergeming mengalihkan pandangannya.

“Ada apa dengan bulan?”

“Aku mencintainya…” Katanya singkat.

“Cinta dengan bulan?” Tanya Yuki tak percaya. Iko mengangguk , senyumnya menggelayut disitu.

“Aku tak tahu sebabnya. Hanya saja, kau tahu setiap hari bulan selalu memancarkan sinar yang berbeda, bentuk yang berbeda dan perasaan yang berbeda. Dari sini aku bisa mengerti apa yang dia rasakan. Setiap hari dia mempunyai cerita yang berbeda, dia bisa sedih, dia bisa senang, dia bisa patah hati, dia juga bisa jatuh cinta. Yah aku merasakannya Yuki…”

Yuki masih tidak mengerti, dan dia hanya menggelengkan kepalanya. Iko hanya tersenyum melihat sahabatnya itu.

“Di sudut bumi lain sana ada seseorang yang menatap bulan yang sama seperti yang aku lihat. Di ujung bumi sana ada seseorang yang merasakan getaran yang sama denganku, dan kami saling menunggu sampai waktunya tiba. Bulan ini yang menyatukan aku dan dia Yuki…maka dari itu, aku mencintainya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s