Perantau

Kata ini sudah sangat populer sekarang ini, karena banyak yang mengalaminya termasuk saya (curhat deh) ada yang karena ilmu pengetahuan alias sekolah, ada yang karena kerjaan, ada juga yang karena keluarga. Alasannya sih banyak yah tapi kalo saya perhatikan lebih banyak itu karena kerjaan sih. Yang dari luar bisa masuk, yang udah didalam bisa keluar. Awal kisah perantauan saya ketika saya mau kuliah. Setelah hidup bertahun-tahun bersama orang tua sampai SMA akhirnya karena saya diterima di PTN di Bogor, hijrahlah saya ke Bogor. Tiga hari pertama saya nangis mulu, cengeng yah, padahal udah ban coklat tapi ternyata nggak ngaruh ke tingkat kecengengan saya #malu# . Bayangin aja, yang biasanya tiap hari pagi buta udah denger teriakannya mama yang ngebangunin saya, udah di masakin sarapan pagi-pagi atau kalau nggak sempet tinggal panggil aja ibu-ibu yang jual nasi bungkus keliling, pulang sekolah udah disiapin makan siang. Jam 3 sore udah ngabur lagi, kalo nggak buat les, buat latihan. Kadang kalau lagi bandel nggak langsung pulang ke rumah dulu maen atau nongkrong dimana gitu, giliran pertama kali ke Bogor malah mewek nggak ada yang ngomelin kalau pulang telat atau nggak makan. Hahaha, what a lovely moment.

Sunset di Pantai masa kecil...
Sunset di Pantai masa kecil...

Kenapa ada perantau, kenapa bisa begitu, karena tidak semua orang bisa menciptakan lapangan kerja sendiri, karena terkadang kalau mau meraih cita-cita tidak ada ditempat kelahiran kita, contoh simplenya aja kuliah. Apalagi kalau udah kaitannya dengan perut jadi mau nggak mau, jauh atau dekat ya harus dijalani. kisah masing-masing perantau memang berbeda-beda. Ada yang sangat berhasil,ada yang biasa-biasa aja, tapi ada juga yang gagal dan semuanya itu pilihan. Disaat tidak memilih satupun itu juga pilihan hidup. Kalau saya percaya, banyak yang saya pelajari dengan merantau. Terutamanya sih tentang kemandirian, dan saya merasa sudah diberi kepercayaan untuk mengurus diri saya sendiri, walaupun saya tahu yang namanya orang tua pasti sedih kalau lihat anak-anaknya jauh. Bertemu dengan manusia-manusia yang berbeda dan mempelajari karakter mereka, walaupun saya juga pernah salah menilai orang, mengenal adat istiadat ditempat yang baru, dan kalau untuk saya yang paling seru sekarang ini sih, saya bisa mengeksplor keindahan alam ditempat saya hidup sekarang. Jadi inget pengalaman saya waktu ke danau Lindu yang jaraknya hanya sekitar 3 jam dari Palu. Bisa-bisanya teman saya yang sudah hampir 20 tahun di Palu belum pernah menginjakkan kakinya di situ. Apalagi ke Kepulauan Togean yang jaraknya 10 jam dari Palu, Ada juga teman cewek saya yang nggak mau sama sekali diajak ke pantai atau berenang karena takut kulitnya menghitam, dia lebih baik dirumah nonton TV. Tapi saya memang tidak bisa menyalahkan orang sih, itu hak mereka kan. Interest orang juga berbeda-beda. Cuma, kalau saya pikir sayang aja gitu, bumi itu luas dan indah sayang kalau nggak dinikmati.

Teman-teman kantor saya disini juga kebanyakan perantauan. Kebanyakan sih dari Makasar, saya cuma salah satu pencilan yang dari Jawa. Hobi kita berbeda, walaupun ada yang satu ide, itu pun cuma satu dua orang jadi saya lebih banyak gabung ke komunitas lain. Lumayan ketemu teman baru dan aktivitas baru membuat saya lebih fresh, terutama kalau ada kegiatan sosial, saya merasa saya sangat berguna bagi manusia lain. Disaat sedang tidak bisa travelling jauh-jauh tapi sudah jenuh atau bosan yang biasa dilakukan adalah berenang, snorkelingan, karaoke atau ke mall yang termegah-terbesar di Sulawesi Tengah (maklum satu-satunya) atau nongkrong di pinggir pantai Talise sambil ngobrol ngalor ngidul menikmati saraba (wedang jahenya Sulawesi), atau kalau memang tidak ada satupun yang bisa saya ajak bicara paling banter kencan sama laptop saya, hahaha. Memang sih yang namanya hidup perantauan itu tidak mudah. Ada aja godaannya, ada aja tantangannya, kuncinya cuma satu pengendalian diri. Inget tujuan awal kita merantau. Inget keluarga yang nun jauh disana yang selalu mendoakan keselamatan kita terutama ibu. Tapi kalau udah jauh, ngerantau terus malah jadi rusak, ke laut aja loe, nggak usah hidup . Ngapain jauh-jauh cuma buat jadi rusak, apalagi kalau bisanya cuma minta duit sama orang tua. #cuihcuih# (lah kok jadi esmosi jiwa yak!)

Seperti yang saya katakan tadi kan hidup itu pilihan. Ada teman saya yang tidak kuat jauh dari keluarga dan akhirnya keluar dari kerja itu juga pilihan. Mungkin menurut pertimbangannya ada yang lebih penting untuk diperjuangkan itu juga pilihan. Saya juga tidak bisa menyalahkan dia, karena itu hidupnya dan itu pilihannya. Kalau memang dia merasa dia lebih merasa bahagia dan berguna itu lebih baik kan. Konsekuensinya kan sudah dia tahu.

Semua orang itu sebenernya pengin juga kumpul sama keluarga tanpa harus merantau. Tapi yang namanya cita-cita nggak bisa dipaksa seperti itu. Kalau memang tujuannya untuk kualitas diri dan kualitas hidup yang lebih baik, kenapa nggak. Walaupun pasti setiap orang maunya kembali ke pangkuan ibu, seperti temen saya yang sama-sama perantau disini untuk menyemangati diri sendiri “Semua akan (p) indah pada waktunya” hehehe. Buat para perantau, Gud Luck!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s