Pencopet Itu Bernama Trisno

18 Nop 2008

Pencopet Itu bernama Trisno

Subuh masih menyelimuti kota Tegal saat aku berangkat menuju stasiun kota kecil itu, mataharipun masih malu-malu menunjukkan sinarnya. Aku harus bangun jam empat pagi untuk menyiapkan semuanya, sendiri. Ya, sendiri. Orangtuaku seakan tak peduli aku akan meninggalkan kota kecil ini, karena sebenarnya mereka tidak mengijinkan. Pemali katanya, hari Sabtu untuk bepergian jauh. Terutama ibuku, dia masih sangat percaya mitos atau apapun yang berkaitan dengan kepercayaan Jawa. Tapi kupikir, jika setiap hari ada pantangannya, kapan manusia bisa maju. Toh aku pergi bukan untuk main-main atau piknik melainkan mencari kerja. Kegiatan yang biasa dilakukan oleh para pengangguran disaat desakan perut mulai meraung-raung dan sepertinya Jakarta menjadi tempat yang sangat menjanjikan. Walaupun, dalam hati sebenarnya aku sama sekali tak mau merantau ke Jakarta. Tempat dimana semua diukur dengan uang dan kesumpekan sudah menyudutkan manusia di kolong-kolong jembatan atau dibantaran kali. Tapi akhirnya aku berangkat juga.

Suara deru motor bapakku yang mengantarkan subuh ini sudah meraung-meraung depan rumah menunggu untuk dibonceng tuannya. Ah sebenarnya malas sekali. Perjalanan dari rumah menuju stasiun walaupun hanya setengah jam, telah mencubiti tubuhku dengan dinginnya udara subuh ini, walaupun tubuhku sudah terselimuti jaket tebal.

Sampainya di stasiun aku turun dan langsung mencium tangan bapakku. Tak kuijinkan dia mengantarkan aku sampai di kereta. Biarkan aku sendiri saja, aku sudah terbiasa sendiri. Setelah mengantri tiket kereta ekonomi yang hanya Rp. 17.000 menuju Jakarta. Langsung ku langkahkan kakiku masuk ke dalam kereta. Ternyata gerbong depan rata-rata sudah penuh semua jadi kulemparkan kakiku menuju gerbong belakang. Disalah satu sudut tempat duduk aku merebahkan diriku sambil menaruh tas di bawah kakiku. Tak pernah sekalipun aku menaruh tas di tempat tas bagian atas. Aku merasa lebih aman seperti itu, dibawah kaki sehingga bisa kuganjal dengan kaki.

Aku menikmati suara-suara manusia yang menawarkan dagangannya. Kesibukan dari tukang air minum, makanan, sampai alat pijat membaur jadi satu di dalam kereta ekonomi ini. Bising memang, tapi menurutku selama tidak menganggu, tidak apa-apa. Kukeluarkan bukuku untuk mengusir rasa bosan ditengah hiruk pikuk manusia. Tiba-tiba ada seorang pemuda yang menjatuhkan dirinya dikursi yang berhadapan denganku. Aku tak peduli siapa dia, jadi kuteruskan membaca bacaanku. Perasaan tak nyaman datang saat dia memindahkan tubuhnya kesampingku. Padahal kulihat sepanjang gerbong ini masih banyak kursi kosong, dan bisa digunakan manusia untuk duduk sendiri jadi lebih leluasa dan lebih santai.

Berulang kali dia mangajakku berbicara, entah apa yang dia bicarakan. Tidak terlalu jelas. Entah berbicara dengan dirinya atau berbicara menanyakanku.
Dari mulutnya kuketahui dia berencana ke Jakarta untuk menjadi mekanik disuatu perusahaan kendaraan bermotor ternama dan katanya lagi ini ini pertama kalinya naik kereta api menuju kota besar itu, biasanya menggunakan bus atau travel yang lebih nyaman. Aku malas sekali menyambung omongannya. Aku pikir orang ini sombong sekali dengan semua gaya bicaranya. Daripada meladeni omongannya yang nggak pernah jelas, lebih baik kutinggal tidur. Kusenderkan kepalaku di jendela kereta api itu. walaupun keras, kupaksakan, daripada kupingku panas mendengarkan omongannya. Tapi, baiknya dia saat ada orang lain mau duduk didepan bangku kami. Dia tak memperbolehkan orang itu duduk didepanku.
”Jangan disitu ada orangnya!”
”Loh siapa bilang? Kosong kok.” Kataku
”Biar kamu bisa tetap selonjor1 kakinya.” Katanya.
Aku diam saja saat dia mengatakan alasannya. Ganjil itu yang kurasakan. Itu merupakan rayuan atau salah satu bentuk meraih simpati cewek, aku tak tahu. Yang jelas pikirku selama dia tidak mengangguku aku juga tidak akan mengganggunya. Perjanjian yang adil bukan, walaupun masih kuacuhkan dia saat berbicara.
Saat aku membuka tasku dan ingin kuletakkkan buku novelku itu, dia meminta buku itu, katanya sih ingin baca, dan katanya bagus banget. Aneh… begitu pesan dari indera saraf otakku pikirkan. Kenapa dia bilang buku itu bagus, padahal dia sendiri belum pernah baca. Kuberikan bukuku, eh tak lama dia memberikannya lagi. Katanya pusing jadi tak jadi dibaca. Cowok yang aneh.

Ah kurebahkan kepalaku di kaca jendela kereta api itu. Nyaman, karena aku memang merasakan kantuk yang sangat berat dan seketika itu juga aku tertidur. Sampai kudengar teriakan tukang pecel yang membangunkanku. Tak lama kemudian, cowok itu yang tak kuketahui namanya, walaupun berkali-kali dia memperkenalkan dirinya padaku tapi kuanggap angin lalu yang sama sekali tidak penting mengatakan berhasrat ingin ke ke kamar kecil. Permintaan yang wajar sebenarnya. Sampai aku merasakan ada yang aneh dalam kepergiannya itu. kepergian yang terlalu hati-hati sampai kusadari, tidak ada seorangpun yang akan ke kamar kecil dengan membawa tasnya turut serta, padahal stasiun pemberhentian yang dia tuju masih jauh, yaitu stasiun Jatinegara seperti yang dia gembar-gemborkan padaku dari pagi. Apalagi dia tak kunjung muncul jika hanya ingin ke kamar kecil.

Langsung kubongkar tasku, karena aku merasa ada sesuatu yang aneh dan benar, ternyata dompetku benar-benar hilang. Dengan dua penumpang itu aku menanyakan beberapa hal.
”Pak, tadi orang itu ngacak-acak tas saya nggak?”
”Ra mbak. Mau kan tas e diindihi sikile.2” Kata bapak yang memakai baju batik dengan rambut kritingnya.
“Kenapa mbak?” Tanya bapak satunya lagi yang memakai kaos krem.
“Dompet saya ilang…” Kataku lirih. Aku berusaha untuk tidak panik terlebih dulu.
“Coba cek lagi mbak tasnya.”
“Ketinggalan kali mbak.”
Tasku sudah kucek untuk kedua kalinya, tapi hasilnya benar-benar nihil. Aku mendadak lemas, keringat mulai mengucur deras di wajahku
“Orang tadi bilangnya mau pipis kan pak?tasnya dibawa juga ya pak?”Tanyaku lagi memastikan.
“Iya mbak, tasnya juga dibawa”.

Kubulatkan hatiku untuk mencari orang itu. Bukan masalah uangnya saja, tapi ini sudah menyangkut masalah hidupku. Kususuri gerbong belakang kereta. Tak lupa kubawa serta tasku. Walaupun beban yang kubawa berat, tapi aku tak peduli. Sempat bapak-bapak tadi menawarkan bantuan untuk menjaga tasnya. Tapi sepertinya memang sulit untuk percaya kepada orang lain lagi. Muak kurasa.
Tiga gerbong dari gerbong yang kududuki, kulihat dia dengan kaos putihnya sedang duduk manis disalah satu kursi dengan penumpang lain. Berang kulihat dia, dan langsung emosiku sudah memuncak. Spontan kuteriak dan kutarik kerah bajunya sambil menodongkan jariku dimukanya.
“Copet! Balikin dompet gue!
“Dompet apa mbak? Nggak ada” Jawaban polos pura-pura tak tahu. Maling mana mau ngaku. Bukti udah depan mata juga. Dia pindah gara-gara nyopet dompetku.
Segera kutarik dia dari tempat duduknya, dengan keadaan aku masih berteriak-teriak untuk mengembalikan dompetku. Kesal kurasa karena tetap saja mengelak. Kupukul dia satu kali mengenai rahangnya. Sayang, dia tidak mau menyerahkan dompetku. Dia malah lebih sayang dompetku dan sangat ingin memilikinya sampai rela mau terjun dari kereta api yang masih berjalan dengan kencangnya.
Orang-orang awalnya cuma bisa memperhatikanku. Manusia-manusia ini sangat senang jika ada tontonan menarik, tapi tak mau sedikitpun turun tangan membantu. Kebejatan manusia memang sadis! Aku tak berpikir apa-apa selain mendapatkan dompetku. Jadi aku juga masih berusaha menarik dia agar tak mati loncat dari kereta. Jika dompet sudah kudapat, mungkin jika dia mau terjun, terjun saja. Toh aku sudah tak peduli. Egois memang, tapi itu adalah sebuah luapan emosi yang memuncak.

Beruntung ada petugas kereta api yang membantuku untuk menariknya kembali ke atas kereta. Bajunya saja sudah sobek dimana-mana. Baru dia mau mengembalikan dompetku. Berang, kupukul dia sekali lagi sampai tersungging darah di bibirnya. Hasil dari latihan karateku jaman SMA ternyata masih berguna juga. Setelah itu biar petugas kereta api itu yang mengurus. Energiku terkuras habis saat itu juga. Bisa dilihat kehebohan para penghuni kereta api Tegal-Arum jurusan Tegal-Jakarta itu. Entah apa yang mereka pikirkan tentang aku. Yang jelas sejenak aku tak mendengar sorakan bahkan teriakan dari para penumpang karena hanya satu yang kuinginkan dompetku kembali. Bisa dibayangkan ke kota besar apalagi Jakarta dan kehilangan semuanya, uang, atm, surat-surat penting, bakalan membuat kepala pusing tujuh keliling. Masa mau meminta-minta di jalanan. Nggak mungkin juga kan.

Akhirnya akupun ikut dengan petugas itu untuk memberikan keterangan perkara yang baru saja terjadi. Tentu saja setelah diborgol dan dimasukkan keruangan kecil, copet itu diinterograsi, dan dipukul juga tentunya. Setelah digeledah tasnya, diketahui namanya Trisno Susilo. Tetangga kampungku di Tegal, dia cuma membawa ijazah SD dan tidak ada sama sekali kartu pengenal dari dia. Melihat dia dipukuli lagi, tentu saja aku jadi merasa iba, tapi tentu saja hal itu tak kutunjukkan.

”Salah loe, kalo mau nyopet gue! bego banget sih, temen sekampung di copet juga, cewek lagi. Bego!”
Reaksinya hanya diam melihatku, entah apa yang di otaknya sekarang.

Setelah itu akupun duduk ke tempat duduk asalku. Pertanyaan datang dari mana-mana. Sebagian kagum denganku, karena berani melawan pencopet itu. ada yang bilang, memanganya aku tidak takut jika tiba-tiba saja copet itu mengeluarkan senjata tajam, atau bahkan melawanku mungkin bisa saja aku bukan hanya menjadi korban pencopetan tapi menjadi korban lainnya yang lebih parah. Aku tidak berpikir sejauh itu pada saat itu, aku hanya ingin dompetku kembali, karena aku sudah tidak punya uang lagi. Walaupun sempat ingin kulontarkan, seandainya itu terjadi mengapa mereka sama sekali tidak ada yang membantuku saat itu. tapi ya sudahlah, mental setiap orang memang berbeda-beda.

Awalnya aku ingin menyudahi urusan ini, aku tak mau diperpanjang lagi. Yang penting dompetku sudah kembali, dan orang yang bernama Trisno itupun sudah kupukul. Aku cukup puas. Tapi kebijakan petugas ternyata tidak seperti itu, mereka menginginkan segera diproses. Aku tahu apa artinya diproses, dengan segala tetak bengeknya yang bikin kepala pusing dan menyita waktu. Tapi toh aku tak bisa menolak.

Mas Trisno ini akhirnya akan diturunkan di stasiun Jatinegara dan aku juga sebagai korban untuk diproses lebih lanjut di Polsek Jatinegara, polsek terdekat. Padahal aku seharusnya turun distasiun kota. Hah, capek, energiku terkuras. Turun dari kereta, aku diturunkan sebagai korban yang perlu bantuan, berbeda dengan Trisno yang turun-turun malah diseret oleh petugas yang lain, gara-gara dia tak mau jalan dan pura-pura pingsan. Tak pelak, bukannya mereka kasihan, malah pukulan kembali menghujam tubuhnya. Setelah digotong ke pos polisi terdekat, dan mencoba untuk dibangunkan dengan cara halus seperti teriakan, tapi malah tidak digubris. Terpaksa diguyur air oleh para polisi. Bisa dibayangkan keadaannya sekarang. Muka lebam, badan babak belur dengan pakaian yang awalnya putih sekarang menjadi compang-camping dan berlumpur. Celana jeansnya pun hampir terlepas dari badannya. Entah apa yang dia cari di ibukota negara ini, jika datang hanya untuk menjadi pecundang. Dunia memang kejam, tapi akan lebih kejam lagi jika melakukan kesalahan.

1. selonjor : meluruskan kaki
2. nggak mbak. Tadi kan tasnya di timpa sama kakinya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s