Manusia, Hidup dan Rasa.

Hidup itu aneh yah, pada saat kita merasakan bahagia yang amat sangat, dalam sekejap bisa berubah jadi sedih, duka dan keterpurukan. Andai manusia tidak mempunyai rasa, mungkin segalanya lebih mudah. Manusia nggak bakal nemuin yang namanya derita, nggak bakal ngerasain sakit, nggak bakal ngerasain tangis, nggak bakal merasa terluka atau terkhianati. Sayang, dihidup semua itu memang harus ada. Terkadang bukan hanya satu kali atau dua kali, tapi berkali-kali. Diangkat sedikit dengan kebahagiaan dan seketika itu juga dijatuhkan kembali dengan luka yang menganga. Apalagi kalau luka yang dulu belum sempat kering, belum sempat sembuh. Analoginya, sudah jatuh tertimpa tangga, dilemparkan ke jurang dan terhempas oleh gelombang. Jangan tanyakan rasanya sudah pasti sakit, sakit sekali. Mungkin karena saking sakitnya jadi tidak terasa apa-apa. Hanya sesak didada, seperti kesulitan bernafas. Melebihi orang asma.


Hidup dan Rasa. Dua hal ini selalu berkaitan ya. Bisakah dipisahkan saja. Kalau mau hidup ya hidup saja tapi tanpa rasa dengan begitu dunia ini tak ada tangis lagi kan. Sayang, mereka seperti dua sejoli yang tidak bisa terpisahkan, selalu lengket seperti perangko. Atau mereka sudah dibaiat untuk selalu bersama, mungkin.

Terkadang aku sendiri ingin menjadi kebal dengan semua rasa, tapi tampaknya tidak pernah bisa. Aku selalu berdoa untuk dikuatkan. Kuat dengan kebal sama tidak? Ah entahlah aku juga tidak mengerti. Terkadang kita salah menilai orang yah. Kita kira, kita tahu segalanya tapi ternyata nol besar . Dan terkadang dengan ekspektasi yang terlalu tinggi malah akhirnya membuat kecewa. Itu pun akhirnya menyangkut lagi karena ada rasa. Rasa ada karena kita hidup, begitu seterusnya. Ini mengindikasikan sulit sekali mencari orang yang bisa kita percaya dalam hidup kita. Itu pun akhirnya berujung ke rasa.


Tahu begitu kenapa dulu nggak ambil jurusan psikolog saja, yang bisa tahu tentang manusia. Walaupun pastinya nggak bisa menjamin bisa membaca pikiran orang. Tapi paling tidak meminimalisir kekecewaan.
Untuk saat ini aku hanya ingin amnesia, melupakan hal-hal buruk yang terjadi dalam hidupku. Tapi sayang, penyakit itu tak kunjung datang. Beruntungnya mereka yang kena amnesia jadi tidak ingat kejadian buruk yang menimpa mereka terutama tentang rasa.
Hanya ingin melupakan hal-hal yang buruk dan membuka pintu maaf sehingga bisa membuka halaman kehidupan yang baru, walaupun aku tahu jalannya tak akan mudah, tak pernah akan mudah.


Monolog yang aneh, pembicaraanku sepertinya akan dilanjutkan dengan Tuhan, agar aku tahu sebenarnya ada apa, tapi aku tidak yakin akan menemukan jawabannya sih. Paling tidak curhat ke Tuhanku akan lebih menenangkan.

4 thoughts on “Manusia, Hidup dan Rasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s