Saya mau buang sampah asal digaji ~_~

Kalau baca judul diatas, seharusnya sih merasa sebel, kesel atau marah tapi tampaknya manusia yang ngomong biasa-biasa aja tuh. Boro-boro merasa bersalah, dia malah merasa benar karena menurutnya itu adalah wajar. Kata-kata ini saya dengar langsung dari seorang ibu di Tanjung Karang, sebuah pantai di Donggala Sulawesi Tengah yang indah. Terumbu karangnya yang indah, ikannya yang cantik, pemandangannya yang luar biasa.

Tanjung Karang
Tanjung Karang

Hari Sabtu kemaren saya bermain snorkeling di sini, jam 7 pagi berangkat dari Palu. Sampai sana belum terlalu ramai dan saya langsung “kencan” dengan ikan-ikan dilaut itu. Spot yang bagus untuk snorkeling di bawah cottage-cottage milik Prince John karena masih jarang orang atau kapal yang menuju kesana. Cuma, yang agak membuat mata saya gerah (mata kok bisa gerah yah) dibalik keindahan pesona bawah lautnya ada aja sampah yang berceceran, baik didarat maupun didalam laut. dari wadah makanan, botol-botol tempat minum sampai detergen (masa nyuci baju di laut sih) terganggu deh acara snorkeling saya.

Setelah capek muter-muter di laut saya akhirnya isitirahat dekat ibu-ibu penjual gorengan dan biasanya dia juga menyediakan tempat untuk sekedar duduk. Iseng-iseng saya tanya
“Disini ada yang suka bersih-bersih pantai ibu?”
“Ada, setiap hari Sabtu.” (Awalnya saya senang dengar jawaban ini, wiezz masyarakat disini peduli juga dengan lingkungan).
” Siapa ibu yang koordinir, pak RT nya yah? tanya saya lagi masih penasaran.
” Bukan, tapi pegawai cottage, kami buat apa-apa bersih-bersih. Kami mau buang sampah asal digaji!”

Saya bener-bener speechless ngedengernya. Temen saya, Citra yang ikutan nimbrung pun ikutan gondok. Mau marah-marah juga nggak mungkin, bukan hak saya. Adoooh, ternyata gini yah cara berpikirnya mereka. Semua dinilai dari rupiah. Padahal mereka cari makan dan penghidupan juga dari pantai ini, tapi untuk mungut sampahnya aja nggak mau. How come gitu loh…

Okelah kalo mereka memandang kalo pegawai cottage itu bersih-bersih karena digaji, itu memang sudah bagian pekerjaan. tapi satu pointnya yang mereka sama sekali nggak inget. Mereka menggantungkan hidupnya pada keindahan pantai dan laut Tanjung Karang walaupun, kalau untuk menjaganya agar bersih dan terbebas sampah saja masih nggak mau bukan tidak mungkin para pelancong yang dari dalam dan luar negeri pun akan menyusut, karena nggak nyaman sama sampahnya. Harusnya tuh mereka bersyukur bisa punya tempat seindah itu, saya aja datang jauh-jauh dari Jawa kesitu.

Ada lagi kebiasaan yang jelek dari manusia Indonesia (dan saya benci sekali) buang sampah dari kendaraan di lempar aja keluar. Arggghh itu bisa bikin emosi jiwa. Kalau orangnya satu mobil sama saya, jangan salahkan saya kalo kena semprot kalo dia buang sampah sembarangan, apalagi ke tengah jalan. Emang yang nyapu jalan nenek moyang loe (sabar-sabar kul….) padahal caranya simple loh. Pake aja kantong plastik taruh di tas kita dulu, kalau memang di dalam mobil tidak ada tempat sampah. Baru deh sampe rumah buang pada tempatnya. Enakan^^
Apalagi bahaya loh kalo buang sampah di jalan. Kalau di belakang pas ada orang, bisa-bisa kena orang itu, bisa kena marah lagi atau yang lebih parah bisa mengakibatkan kecelakaan. ckckckckckckc

Mumpung masih cantik, mumpung masih indah, mari kita jaga dan lestarikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s