Green House di negeri kincir angin

Cerita ini terinspirasi dari salah seorang teman saat di Indonesia untuk melihat komodo.  Pertemuan awal dengan tim penelitian saya dengannya di Pulau Rinca Taman Nasional  Komodo, kita bercerita tentang banyak hal terutama budaya Indonesia, karena beliau berasal dari Belanda.  Sampai akhirnya kita bertukar nomor telepon, karena dia tertarik dengan cerita saya tentang Indonesia.

Penelitian saya pun telah usai dan saya harus pulang ke Bogor. Sebulan kemudian ternyata Mr  Jan Koetsier menghubungi tim saya kembali. Saat itu dia sedang di Sumatera, dan ada saudaranya yang akan datang ke Jawa. Mau tahu apa yang ingin di lihat oleh saudaranya yang bernama  Mr  Reney ternyata dia ingin melihat Kebun Raya Bogor. Tempat dimana berjuta jenis tanaman dan pohon dari seluruh spesies dapat tumbuh disitu.

Akhirnya saya dengan seorang teman yang bernama Ocin pun mengawal Mister Reney dan anaknya  untuk keliling Kebun Raya Bogor. Sekali masuk dia sangat excited banget. Menurutnya pohon-pohon itu sangat indah. Tahu tidak, alis kami cuma berkerut, karena tidak begitu luar biasa menurut kami yang sudah terbiasa dengan pemandangan ini. Kita pun bercerita bahwa ini didirikan oleh Prof. Caspar Georg Karl Reinwardt seseorang berkebangsaan Jerman yang berpindah ke Belanda dan menjadi ilmuwan botani dan kimia. Ia tertarik menyelidiki berbagai tanaman yang digunakan untuk pengobatan. Ia memutuskan untuk mengumpulkan semua tanaman ini di sebuah kebun botani di Kota Bogor, yang saat itu disebut Buitenzorg (dari bahasa Belanda yang berarti “tidak perlu khawatir”). Reinwardt juga menjadi perintis di bidang pembuatan herbarium. Ia kemudian dikenal sebagai seorang pendiri Herbarium Bogorien.

Kagum dengan sumberdaya alam yang dimiliki Indonesia, pada akhirnya mereka pun bercerita, sangat sulit sekali jika harus bercocok tanam di negeri Belanda itu karena musimnya. Sedikitnya sinar matahari yang muncul menyebabkan mereka memikirkan cara khusus untuk merawat tanamannya. Bukannya gentar karena sulit menanam tanaman, mereka malah berpikir keras bagaimana agar bisa terus menanam tumbuhan karena mereka sudah sadar akan pentingnya tumbuhan untuk kehidupan. Akhirnya mereka pun menggunakan green house untuk bercocok tanam dalam tingkat keluarga sekalipun.

Mendengar kata green house, kita membayangkan bangunan tersebut berada di sebuah perusahaan besar ataupun milik perseorangan yang sudah modern dan berskala besar. Menurut salah satu pakar, green house diartikan sebagai suatu struktur bangunan dimana tanaman dapat tumbuh dan berkembang di bawah lingkungan dan kondisi artifisal (terkendali) yang berkaitan dengan suhu, kelembaban, intensitas cahaya, photo period, ventilasi, media tanah, pengendalian hama dan penyakit, irigasi, fertigasi dan praktek-­praktek agronomi lainnya.

Aplikasi di bidang pertanian, konstruksi ini terbukti mendatangkan banyak manfaat diantaranya untuk membudidayakan tanaman di luar musim (off-season), florikultur, aklimatisasi, perbaikan varietas tanaman melalui penyilangan dan lain sebagainya.

Ukuran dan bahan materi, bentuk serta struktur green house sangatlah bervariasi sesuai dengan tujuan/kepentingan yang ingin diperoleh. Ukuran green house mulai 100 m2 hingga 10.000 m2 bahkan lebih. Sedangkan bahan yang digunakan mulai yang sederhana terbuat dari lembar polythein, dilengkapi dengan atap dari lembar polycarbonate, gabungan polythein dan shading net, otomatik dan semi otomatik hingga seluruhnya dikendalikan dengan sistem komputerisasi. Menurut bentuk dasarnya, green housegable), melengkung rata (flat arch), kubah (raised dome), gigi gergaji (sawtooth), terowongan (tunnel/igloos) dan sebagainya. Sedangkan ditelaah dari strukturnya, green house terbagi menjadi:

a)    Shade house (Rumah Naungan). Struktur bangunan ini terbuat dari rangkaian naungan dari bahan material yang memungkinkan cahayamatahari, kelembaban dan udara dapat masuk melalui celah-celah. Bahan material penutup bangunan digunakan untuk memodifikasi lingkungan yang secara khusus digunakan untuk mengurangi cahaya sekaligus melindungi tanaman dari kondisi cuaca yang kurang menguntungkan. Ketinggian struktur bangunan tersebut bervariasi tergantung pada jenis tanaman yang akan dibudidayakan yaitu lebih kurang 8 meter.

b)    Screen house (Rumah Kaca/Plastik). Bangunan ini terbuat dari plastik atau kaca yang dibuat untuk melindungi tanaman dari serangan hama. Screen house ini banyak dijumpai di daerah-daerah panas atau beriklim tropis.


c} Crop top structures (Struktur Puncak Tanaman). Green house pada katagori ini dibuat atap tanpa ada dinding. Atapnya bisa terbuat dari plastik atau kaca, kain (shade cloth), atau ram nyamuk (insect screening). Struktur ini dibuat sedemikian rupa untuk melindungi tanaman dari air hujan atau mengurangi intensitas cahaya.

Beberapa jenis mesin dan peralatan yang lazim disediakan dalam green house berskala tinggi adalah antara lain: sistem irigasi dan pemupukan (drip/sprinkler irrigation systems), sistem pengkabutan untuk mengatur kelembaban udara, ventiiator untuk membuka dan menutup celah udara masuk-keluar, jaring naungan (shading net), kipas pendingin, sistem penghangat, generator CO2, alat kontrol suhu (termometer), kelembaban (higrometer) dan radiasi, soil pH moister, serta tes NaCl.

Ditambah lagi tanah dibagian timur dan tenggara Belanda adalah miskin, green house merupakan metode pertanian yang mereka pilih untuk masa depan. Teman kami yang dari Belanda ini mempunyai greenhouse yang berada diatap rumahnya, menyulap atap yang biasanya kosong menjadi hutan kecil yang indah walaupun perlu perawatan ekstra. Hobi mereka adalah mengumpulkan berbagai benih dan bibit yang bisa dibawa pulang ke Belanda dan dapat ditanam dalam hutan kecilnya.  Saat di Kebun Raya Bogor ini mereka membeli berbagai bibit diantaranya saga, mahoni, kapuk, dan anggrek yang perkantong cuma Rp. 10.000.

Keterbatasan yang dimiliki negeri ini tidak membuat mereka merasa terbatasi, namun malah sebaliknya mereka makin bergeliat untuk selalu mencari dan mencari inovasi. Luasnya hampir sama dengan Jawa Barat, hanya saja mereka dapat mencukupi kebutuhan pertaniannya sendiri, bahkan mengekspor ke Negara lain, cukup mencengangkan untuk negeri yang yang tanahnya miskin.  Belanda terkenal dengan umbi yang tumbuh untuk ekspor, terutama tulip, hyacinth, daffodil, bakung, dan crocus. Hal yang selayaknya patut dicontoh dari negeri ini untuk negeri kita…Indonesia tercinta.

3 thoughts on “Green House di negeri kincir angin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s